Rabu, 17 September 2014  

Berita Pajak

UU PPh baru dorong daya saing investasi

Bisnis Indonesia, Jumat 5 September 2008

   Cari Berita Pajak    Kirim Komentar    Beritahu Teman    Cetak A A A  

JAKARTA: Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM) yakin UU Pajak Penghasilan yang baru disahkan DPR dapat meningkatkan daya saing investasi Tanah Air.

Kepala BKPM Muhammad Lutfi menilai penyerdahanaan tarif pajak penghasilan (PPh) menjadi tarif tunggal 28% berpotensi meningkatkan penanaman modal dalam negeri. Turunnya tarif PPh itu akan kian menarik minat investasi ke Indonesia.

"Artinya ada perbaikan yang membuat [rezim pajak] Indonesia menjadi lebih kompetitif.Mudah-mudahan nanti penciptaan nilai tambah bisa datang," ujarnya, kemarin.

Menurut Lutfi, nilai investasi asing hingga Juli tumbuh 150%, tetapi PMDN justru turun 70%. Hal ini disebabkan banyaknya pengusaha domestik yang memilih menanamkan modalnya ke luar negeri.

Para pengusaha itu menggunakan badan hukum asing untuk memanfaatkan rezim pajak di luar negeri yang dinilai lebih kompetitif dibandingkan dengan di dalam negeri.

"Mereka anggap bayar pajak di luar negeri lebih efisien dan lebih menguntungkan,"jelas dia.

Dia menjelaskan tarif PPh yang akan kembali turun pada 2010 menjadi 25% akan kian memacu daya saing dengan Malaysia dan Singapura yang masing-masing menetapkan tarif 25% dan 20%. "Berarti kita sudah menyadari perlunya persaingan dalam rezim pajak."

Dalam RUU PPh yang disahkan DPR pekan ini, tarif PPh badan yang semula terdiri dari tiga lapisan, yaitu 10%, 15% dan 30% diubah menjadi tarif tunggal 28% pada tahun 2009. Tarif ini kemudian diturunkan lagi menjadi 25% pada 2010.

Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, penerapan tarif tunggal bertujuan menyesuaikan dengan prinsip kesederhanaan dan mengacu international best practice.

Prospek cerah

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi melihat UU PPh baru memberi prospek cerah bagi iklim investasi. Selain penurunan tarif PPh, berbagai insentif yang diberikan bagi dunia usaha dan sistem perpajakan yang semakin membaik dan sangat mendukung para pelaku bisnis.

"Jadi saya pikir sekarang tinggal tarif PPN saja dan tahun ini [dijadwalkan] selesai dibahas," katanya.

Sofjan berpendapat tarif PPh baru itu akan banyak menarik minat investor asing masuk, terutama dari China. Pasalnya, China menerapkan tarif pajak terlalu tinggi sehingga dinilai kurang bersahabat dengan dunia usaha.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia M.S. Hidayat menilai tarif PPh badan ini sudah sesuai dengan aspirasi Kadin.

Kendati begitu, tarif PPh yang berlaku saat ini masih kurang kompetitif dibandingkan negara lainnya.

Dewi Astuti


Bisnis Indonesia, 5 September 2008

© PajakOnline.com | ‹ Dibaca 420 kali ›

Pencarian Berita Pajak
Kata Kunci :