Kamis, 27 Nopember 2014  

Berita Pajak

Pajak, Timbal Jasa, dan Korupsi

Harian Seputar Indonesia, Kamis 1 April 2010

   Cari Berita Pajak    Kirim Komentar    Beritahu Teman    Cetak A A A  

GAYUS HP Tambunan telah ditangkap namun rasa sakit kita sebagai wajib pajak tentu belum lenyap. Seperti Anda,pembaca,saya juga mengisi SPT tahunan, dan setelah dihitung-hitung, banyak juga yang telah saya bayar untuk membangun negeri ini.

Bila Anda telah membayar dengan sungguhsungguh, pasti Anda merasakan hal yang sama dengan yang saya rasakan. Ada rasa kecewa, marah, muak, dan kesal yang dalam terhadap tindakan para oknum serta mereka yang telah menyandera negeri ini.

Remunerasi

Setelah kasus ini merebak berbagai komentar tentang remunerasi di Kementerian Keuangan (Kemenkeu) pun merebak. Saya mencatat, setidaknya ada tiga macam opini yang beredar. Opini pertama datang dari kaum politisi yang merasa belum tuntas dengan kasus Century. Opini ini mempersoalkan remunerasi yang begitu besar untuk pegawai Kemenkeu namun hasilnya tetap saja korupsi.

Opini kedua datang dari mereka yang tidak begitu paham tentang proses reformasi dan transformasi manajemen, agak sedikit negatif namun sumbernya adalah ketidakmengertian. Opini ini menyatakan, menaikkan imbaljasa (penghasilan) bukanlah satusatunya jalan untuk melakukan reformasi birokrasi. Mereka menganjurkan cara lain, seperti pembenahan rekrutmen, perbaikan pengawasan,dan seterusnya.

Opini ketiga datang dari mereka yang berpikir lebih sistemik. Kelompok ini tidak mempersoalkan remunerasi namun sepakat remunerasi tidaklah cukup. Necessary but not sufficient. Maka pilihannya bukanlah remunerasi atau cara lain namun remunerasi dan lain-lain. Bagaimanakah kita menjelaskan reformasi birokrasi dalam konteks manajemen perubahan dan hubungannya dengan remunerasi? Pertama-tama perlu diketahui bahwa tujuan dari reformasi birokrasi adalah menghasilkan pemerintahan yang bersih dan responsif.

Apalah artinya bila pemerintahan bersih namun bergerak lamban dan tidak responsif? Jadi, bersih saja tidaklah cukup. Karena pemerintahan telah terbelenggu korupsi, maka diperlukan perubahan. Perubahan itu tentu tidaklah mudah. Selain bersahabat dengan resistensi, perubahan juga menyandang sejuta persoalan sehingga belum tentu berhasil menciptakan pembaharuan. Namun, tanpa perubahan sudah tentu tidak akan pernah ada pembaruan.

Jadi, meskipun berisiko, perubahan tetap harus dilakukan. Lantas bagaimana bila ada kegagalan? Formula perubahan menyatakan, janganlah berhenti. Seperti mengayuh sepeda, sekali kita berhenti maka kita bisa terjatuh. Untuk itu, setiap melakukan perubahan penting dipersiapkan backup system. Sebab seperti yang dialami para engineer pesawat ulangalik, tidak ada cara satu pun yang dapat dilakukan untuk mencegah bocornya tangki bahan bakar yang berakibat ledakan.

Yang dapat mereka lakukan adalah membuat dinding tangki berlapis-lapis, bila satu bocor, masih ada dinding bagian dalam yang menyelamatkan. Demikian pula dengan reformasi birokrasi. Sistem remunerasi harus diberi lapisan-lapisan pelengkap. Agar bila bocor, seluruh pesawat tetap berjalan selamat. Apa saja lapisan-lapisan lain itu? Mereka yang pernah menjadi professional manager tentu tahu persis bahwa tidak ada hasil yang dapat dicapai melalui satu elemen saja.

Perubahan pada dasarnya adalah suatu hasil dari sebuah kombinasi berbagai elemen yang saling terkait satu dengan lainnya. Tak seorang pun yang sepakat bahwa gaji yang baik saja dapat mengatasi korupsi.Tetapi, semua tentu sepakat kekuasaan yang tinggi dengan gaji yang rendah berpotensi besar penyelewengan. Karena kekuasaan para pejabat negara adalah besar maka otomatis gaji mereka yang terlalu kecil adalah sumber penyebab penyelewengan.

Anda mungkin masih ingat lomba membuat gajah menangis di Thailand yang berhasil dimenangkan pejabatpejabat dari Indonesia? Cerita tentang hal ini marak beredar pada awal-awal proses reformasi. Konon gajah-gajah di Thailand begitu mudah menangis cukup dengan dibisiki pejabat asal Indonesia,apa yang dibisiki? “Saya pejabat tinggi, PNS asal Indonesia.”

Waktu ditanya pada seorang pawang pelatih gajah,akhirnya terungkap gajah-gajah itu menangis karena sedih menyatakan betapa kecilnya gaji pegawai negeri sipil Indonesia. Kendati demikian,sejak sistem remunerasi PNS di Kemenkeu diperbaiki, cerita tadi perlahanlahan hilang.Konon bisikan para pejabat sudah tidak bisa membuat gajah-gajah itu menangis lagi. Namun, sudah cukupkah kita menghasilkan perubahan dari jendela remunerasi saja?

Formula Perubahan

Meski perubahan bukanlah sesuatu yang bersifat preskriptif (seperti sebuah resep), dalam manajemen perubahan dikenal formula hasil sebagai R1 = V1x R2x S x I x V2.Formula ini menunjukkan bahwa R1(results of change) adalah produk dari perkalian empat elemen yang terdiri dari V (visi yang jelas), R2 (resource yang memadai), S (skill yang cukup), I (incentive yang memadai), V2 (values).

Formula ini dirangkai dalam bentuk perkalian,yang berarti bila salah satu absen, maka hasil yang dicapai (R1) akan menjadi sia-sia (0) dalam hal inilah, maka remunerasi tetap penting. Menarik kembali sistem remunerasi yang telah dibangun hanya akan menghasilkan set back.Namun sebaliknya, menganggap unsurunsur lainnya tidak penting, atau menganggap remunerasi sebagai segala-galanya dapat bermuara pada kehancuran perubahan.

Dengan demikian, jelaslah diperlukan visi yang jelas, resources yang memadai (termasuk alatalat kontrol dan perangkatperangkat good governance), serta tenaga-tenaga yang terampil. Namun dari semua itu,unsur yang tak kalah penting adalah V2 atau tata nilai. Saya melihat visi perubahan sudah cukup jelas namun elemen-elemen lainnya belum bekerja dengan baik apalagi menyangkut tata nilai.

Dalam birokrasi pemerintahan, pengetahuan dan keterampilan manajemen perubahan memang masih jauh dari harapan.Ini berarti perubahan belum dapat memberi hasil sebelum cara berpikir birokrasi, apalagi di pajak,benar-benar telah berubah. Ini PR besar untuk kita semua.


Harian Seputar Indonesia, 1 April 2010

© PajakOnline.com | ‹ Dibaca 374 kali ›

Pencarian Berita Pajak
Kata Kunci :