Selasa, 23 September 2014  

Peraturan Perpajakan

  • 244

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 244/PMK.03/2008

Ditetapkan tanggal 31 Desember 2008

JENIS JASA LAIN SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM PASAL 23 AYAT (1) HURUF C ANGKA 2 UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN SEBAGAIMANA TELAH BEBERAPA KALI DIUBAH TERAKHIR DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 36 TAHUN 2008
Arsip Cari Peraturan Perpajakan Topik: PPh Pasal 23 » Peraturan Menteri Keuangan » 2008 Topik: Semua PPh » Peraturan Menteri Keuangan » 2008 Topik: PPh Umum » Peraturan Menteri Keuangan » 2008 Topik: Objek Pajak Penghasilan » Peraturan Menteri Keuangan » 2008

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 244/PMK.03/2008
JENIS JASA LAIN SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM PASAL 23 AYAT (1) HURUF C ANGKA 2 UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN SEBAGAIMANA TELAH BEBERAPA KALI DIUBAH TERAKHIR DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 36 TAHUN 2008
			    PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
				            NOMOR 244/PMK.03/2008

					          TENTANG

	      JENIS JASA LAIN SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM PASAL 23 AYAT (1) HURUF C
	     ANGKA 2 UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN
		  SEBAGAIMANA TELAH BEBERAPA KALI DIUBAH TERAKHIR DENGAN
			         UNDANG-UNDANG NOMOR 36 TAHUN 2008

			        MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang :

a. 	bahwa berdasarkan Pasal 23 ayat (1) huruf c angka 2 Undang-Undang Nomor 7 TAHUN 1983 tentang 
	Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36
 	Tahun 2008, imbalan sehubungan dengan jasa lain selain yang telah dipotong Pajak Penghasilan 
	sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21, dipotong Pajak Penghasilan sebesar 2% (dua persen) dari 
	jumlah bruto atas imbalan dimaksud.
b. 	bahwa berdasarkan Pasal 23 ayat (2) Undang-Undang Nomor 7 TAHUN 1983 tentang Pajak Penghasilan 
	sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 TAHUN 2008, 
	Menteri Keuangan berwenang mengatur jenis jasa lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1)
 	huruf c angka 2 Undang-Undang Nomor 7 TAHUN 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah 
	beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 TAHUN 2008;
c. 	bahwa berdasarkan pertimbangan pada huruf a dan huruf b dimaksud, perlu menetapkan Peraturan 
	menteri Keuangan tentang Jenis Jasa Lain Sebagaiman Dimaksud dalam Pasal 23 Ayat (1) Huruf c 
	Angka 2 Undang-Undang Nomor 7 TAHUN 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa
 	kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 TAHUN 2008. 

Mengingat :

1. 	Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (Lembaran 
	Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3262) 
	sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 
	(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 85, Tambahan Lembaran Negara Republik 
	Indonesia Nomor 4740);
2. 	Undang-Undang Nomor 7 TAHUN 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia
 	Tahun 1983 Nomor 50; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3263) sebagaimana 
	telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 TAHUN 2008 (Lembaran Negara 
	Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 133, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 
	4893)
3. 	Keputusan Presiden Nomor 20/P Tahun 2005; 


					       MEMUTUSKAN :

Menetapkan :

PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG JENIS JASA LAIN SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM PASAL 23 
AYAT (1) HURUF C ANGKA 2 UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN 
SEBAGAIMANA TELAH BEBERAPA KALI DIUBAH TERAKHIR DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 36 TAHUN 2008.


						Pasal 1

(1) 	Imbalan sehubungan dengan jasa lain selain jasa yang telah dipotong Pajak Penghasilan sebagaimana 
	dimaksud dalam Pasal 21, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) huruf c angka 2 
	Undang-Undang Nomor 7 TAHUN 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali 
	diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 TAHUN 2008, dipotong Pajak Penghasilan sebesar 2%
	(dua persen) dari jumlah bruto tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai.
(2) 	Jenis jasa lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari:
 	a. 	Jasa penilai (appraisal);
   	b. 	Jasa aktuaris;
   	c. 	Jasa akuntansi, pembukuan, dan atestasi laporan keuangan;
   	d. 	Jasa perancang (design);
   	e. 	Jasa pengeboran (drilling) di bidang penambangan minyak dan gas bumi (migas), kecuali yang 
		dilakukan oleh bentuk usaha tetap (BUT);
   	f. 	Jasa penunjang di bidang penambangan migas;
   	g. 	Jasa penambangan dan jasa penunjang di bidang penambangan selain migas;
   	h. 	Jasa penunjang di bidang penerbangan dan bandar udara;
   	i. 	Jasa penebangan hutan;
   	j. 	Jasa pengolahan limbah;
   	k. 	Jasa penyedia tenaga kerja (outsourcing services)
   	l. 	Jasa perantara dan/atau keagenan;
  	m. 	Jasa di bidang perdagangan surat-surat berharga , kecuali yang dilakukan oleh Bursa Efek, 
		KSEI dan KPEI;
	n. 	Jasa kustodian/pemyimpanan /penitipan, kecuali yang dilakukan oelh KSEI;
 	o. 	Jasa pengisian suara (dubbing) dan/atau sulih suara;
  	p. 	Jasa mixing film;
  	q. 	Jasa sehubungan dengan software computer, termasuk perawatan, pemeliharaan dan 
		perbaikan;
 	r. 	Jasa instalasi/pemasangan mesin, peralatan, listrik, telepon, air, gas, AC, dan/atau TV kabel, 
		selain yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang ruang lingkupnya di bidang konstruksi dan 
		mempunyai izin dan/atau sertifikasi sebagai pengusaha konstruksi;
  	s. 	Jasa perawatan/perbaikan/pemeliharaan mesin, peralatan, listrik, telepon, air, gas, AC, TV 
		kabel, alat transportasi/kendaraan dan/atau bangunan, selain yang dilakukan oleh Wajib Pajak
 		yang ruang lingkupnya di bidang konstruksi dan mempunyai izin dan/atau sertifikasi sebagai 
		pengusaha konstruksi;
	t. 	Jasa maklon;
	u. 	Jasa penyelidikan dan keamanan;
  	v. 	Jasa penyelenggara kegiatan atau event organizer;
	w. 	Jasa pengepakan;
 	x. 	Jasa penyediaan tempat dan/atau waktu dalam media masa, media luar ruang atau media lain
 		untuk penyampaian informasi;
	y. 	Jasa pembasmian hama;
	z. 	Jasa kebersihan atau cleaning service;
	aa. 	Jasa catering atau tata boga. 
(3) 	Dalam hal penerima imbalan sehubungan dengan jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak 
	memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak, besarnya tariff pemotongan adalah lebih tinggi 100% (seratus 
	persen) daripada tariff sebagaimana dimaksud pada ayat (1).


						Pasal 2

(1) 	Jasa penunjang di bidang penambangan migas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (2) huruf f 
	adalah jasa penunjang di bidang penambangan migas dan panas bumi berupa:
   	a. 	Jasa penyemenan dasar (primary cementing) yaitu penempatan bubur semen secara tepat di 
		antara pipa selubung dan lubang sumur;
   	b. 	Jasa penyemenan perbaikan (remedial cementing), yaitu penempatan bubur semen untuk 
		maksud-maksud:
         		- 	Penyumbatan kembali formasi yang sudah kosong;
          		- 	Penyumbatan kembali zona yang berproduksi air;
    		- 	Perbaikan dari penyemenan dasar yang gagal;
          		- 	Penutupan sumur. 
   	c. 	Jasa pengontrolan pasir (sand control), yaitu jasa yang menjamin bahwa bagian-bagian 
		formasi yang tidak terkonsolidasi tidak akan ikut terproduksi ke dalam rangakaian pipa 
		produksi dan menghilangkan kemungkinan tersumbatnya pipa;
   	d. 	Jasa pengasaman (matrix acidizing), yaitu pekerjaan untuk memperbesar daya tembus formasi
 		dan menaikan produktivitas dengan jalan menghilangkan material penyumbat yang tidak 
		diinginkan;
 	e. 	Jasa peretakan hidrolika (hydraulic), yaitu pekerjaan yang dilakukan dalam hal cara 
		pengasaman tidak cocok, misalnya perawatan pada formasi yang mempunyai daya tembus 
		sangat kecil;
	f. 	Jasa nitrogen dan gulungan pipa (nitrogen dan coil tubing), yaitu jasa yang dikerjakan untuk 
		menghilangkan cairan buatan yang berada dalam sumur baru yang telah selesai, sehingga 
		aliran yang terjadi sesuai dengan tekanan asli formasi dan kemudian menjadi besar sebagai 
		akibat dari gas nitrogen yang telah dipompakan ke dalam cairan buatan dalam sumur;
	g. 	Jasa uji kandung lapisan (drill steam testing), penyelesaian sementara suatu sumur baru agar 
		dapat mengevaluasi kemampuan berproduksi;
  	h. 	Jasa reparasi pompa reda (reda repair);
 	i. 	Jasa pemasangan instalasi dan perawatan;
 	j. 	Jasa penggantian peralatan/material;
	k. 	Jasa mud logging, yaitu memasukkan lumpur ke dalam sumur;
	l. 	Jasa mud engineering;
  	m. 	Jasa well logging & perforating;
	n. 	Jasa stimulasi dan secondary decovery;
	o. 	Jasa well testing & wire line service;
  	p. 	Jasa alat control navigasi lepas pantai yang berkaitan dengan drilling;
	q. 	Jasa pemeliharaan untuk pekerjaan drilling;
	r. 	Jasa mobilisasi dan demobilisasi anjungan drilling;
	s. 	Jasa lainnya yang sejenis di bidang pegeboran migas. 
(2) 	Jasa penambangan dan jasa penunjang di bidang penambangan selain migas sebagaimana dimaksud 
	dalam Pasal 1 ayat (2) huruf g adalah semua jasa penambangan dan jasa penunjang di bidang 
	pertambangan umum berupa:
   	a. 	Jasa pengeboran;
   	b. 	Jasa penebasan;
   	c. 	Jasa pengupahan dan pengeboran;
   	d. 	Jasa penambangan;
   	e. 	Jasa pengangkutan/system transportasi, kecuali jasa angkutan umum;
   	f. 	Jasa pengolahan bahan galian;
   	g. 	Jasa reklamasi tambang;
   	h.	Jasa pelaksanaan mekanikal, elektrikal, manufaktur, fabrikasi dan penggalian/pemindahan 
		tanah;
  	 i. 	Jasa lainnya yang sejenis di bidang pertambangan umum. 
(3) 	Jasa penunjang di bidang penerbangan dan Bandar udara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 
	ayat (2) huruf h adalah berupa:
   	a. 	Bidang aeronautika, termasuk:
         		1. 	Jasa pendaratan, penempatan, penyimpanan pesawat udara dan jasa lain sehubungan
 			dengan pendaratan pesawat udara;
         		2. 	Jasa penggunaan jembatan pintu (avio bridge);
         		3. 	Jasa pelayanan penerbangan;
         		4. 	Jasa ground handling, yaitu pengurusan seluruh atau sebagian dari proses pelayanan 
			penumpang dan bagasinya serta kargo,yang diangkut dengan pesawat udara, baik
		  	yang berangkat maupun yang datang, selama pesawat udara didarat;
         		5. 	Jasa penunjang lain di bidang aeronautika. 
   	b. 	Bidang non-aeronautika, termasuk:
         		1. 	Jasa catering di pesawat dan jasa pembersihan pantry pesawat;
         		2. 	Jasa penunjang lain di bidang non-aeronautika. 
(4) 	Jasa maklon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (2) huruf t adalah pemberian jasa dalam 
	rangka proses penyelesaian suatu barang tertentu yang proses pengerjaannya dilakukan oleh pihak 
	pemberi jasa (disubkontrakkan), yang spesifikasi, bahan baku dan atau barang setengah jadi dan atau
 	bahan penolong/pembantu yang akan diproses sebagian atau seluruhnya disediakan oleh pengguna 
	jasa, dan kepemilikan atas barang jadi berada pada pengguna jasa.
(5) 	Jasa penyelenggara kegiatan atau event organizer sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (2) 
	huruf v adalah kegiatan usaha yang dilakukan oleh pengusaha jasa penyelenggara kegiatan meliputi 
	antara lain penyelengaraan pameran, konvensi, pagelaran musik, pesta, seminar, peluncuran produk, 
	konferensi pers, dan kegiatan lain yang memanfaatkan jasa penyelenggara kegiatan.


						Pasal 3

Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2009.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Peraturan Menteri Keuangan ini dengan 
penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.




Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 31 Desember 2008
MENTERI KEUANGAN

ttd

SRI MULYANI INDRAWATI
Peraturan Terkait

Komentar



© PajakOnline.com |  ‹ Dibaca 4981 kali - Dicetak 0 kali ›