Sabtu, 20 September 2014  

Peraturan Perpajakan

  • 24

Peraturan Pemerintah Nomor 24 TAHUN 2000

Ditetapkan tanggal 20 April 2000

PERUBAHAN TARIF BEA METERAI DAN BESARNYA BATAS PENGENAAN HARGA NOMINAL YANG DIKENAKAN BEA METERAI
Arsip Cari Peraturan Perpajakan Topik: Bea Meterai » Peraturan Pemerintah » 2000

			        PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
					  NOMOR 24 TAHUN 2000

						TENTANG

		            PERUBAHAN TARIF BEA METERAI DAN BESARNYA BATAS
		       PENGENAAN HARGA NOMINAL YANG DIKENAKAN BEA METERAI

				       PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang :

a.	bahwa dalam rangka pembangunan nasional maka peran serta segenap masyarakat perlu ditingkatkan 
	dalam menghimpun dana pembiayaan yang sumbernya sebagian besar dari sektor perpajakan;
b.	besarnya tarif Bea Meterai dan besarnya batas pengenaan harga nominal yang dikenakan Bea Meterai
	yang berlaku sekarang sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan sosial ekonomi masyarakat;
c.	bahwa sehubungan dengan hal tersebut di atas, dipandang perlu untuk mengatur kembali mengenai 
	besarnya tarif Bea Meterai dan besarnya batas pengenaan harga nominal yang dikenakan Bea Meterai;

Mengingat :

1.	Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945;
2.	Undang-undang Nomor 13 TAHUN 1985 tentang Bea Meterai (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 69, 
	Tambahan Lembaran Negara Nomor 3313);

					       MEMUTUSKAN :

Menetapkan :

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG PERUBAHAN TARIF BEA METERAI DAN BESARNYA 
BATAS PENGENAAN HARGA NOMINAL YANG DIKENAKAN BEA METERAI.


						Pasal 1

Dokumen yang dikenakan Bea Meterai berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 TAHUN 1985 tentang Bea Meterai 
adalah dokumen yang berbentuk	:
a.	surat perjanjian dan surat-surat lainnya yang dibuat dengan tujuan untuk digunakan sebagai alat 
	pembuktian mengenai perbuatan, kenyataan atau keadaan yang bersifat perdata;
b.	akta-akta Notaris termasuk salinannya;
c.	akta-akta yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) termasuk rangkap-rangkapnya;
d.	surat yang memuat jumlah uang, yaitu :
	1)	yang menyebutkan penerimaan uang;
	2)	yang menyatakan pembukuan uang atau penyimpanan uang dalam rekening di Bank;
	3)	yang berisi pemberitahuan saldo rekening di Bank; atau
	4)	yang berisi pengakuan bahwa hutang uang seluruhnya atau sebagiannya telah dilunasi atau 
		diperhitungkan;
e.	surat berharga seperti wesel, promes, dan aksep; atau
f.	dokumen yang akan digunakan sebagai alat pembuktian di muka Pengadilan, yaitu :
	1)	surat-surat biasa dan surat-surat kerumahtanggaan;
	2)	surat-surat yang semula tidak dikenakan Bea Meterai berdasarkan tujuannya, jika digunakan 
		untuk tujuan lain atau digunakan oleh orang lain, selain dari maksud semula.


						Pasal 2

(1)	Dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf a, huruf b, huruf e, dan huruf f dikenakan Bea 
	Meterai dengan tarif Rp 6.000,00 (enam ribu rupiah).
(2)	Dokumen sebagaimana dimaksud pada Pasal 1 huruf d dan huruf e :
	a.	yang mempunyai harga nominal sampai dengan Rp 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu 
		rupiah), tidak dikenakan Bea Meterai;
	b.	yang mempunyai harga nominal lebih dari Rp 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah) 
		sampai dengan Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), dikenakan Bea Meterai dengan tarif 
		sebesar Rp 3.000,00 (tiga ribu rupiah);
	c.	yang mempunyai harga nominal lebih dari Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), dikenakan Bea 
		Meterai dengan tarif sebesar Rp 6.000,00 (enam ribu rupiah).


						Pasal 3

Cek dan Bilyet Giro dikenakan Bea Meterai dengan tarif sebesar Rp 3.000,00 (tiga ribu rupiah) tanpa batas 
pengenaan besarnya harga nominal.


						Pasal 4

(1)	Efek dengan nama dan dalam bentuk apapun yang mempunyai harga nominal sampai dengan 
	Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah) dikenakan Bea Meterai dengan tarif sebesar Rp 3.000,00 (tiga ribu 
	rupiah), sedangkan yang mempunyai harga nominal lebih dari Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah) 
	dikenakan Bea Meterai dengan tarif sebesar Rp 6.000,00 (enam ribu rupiah).
(2)	Sekumpulan efek dengan nama dan dalam bentuk apapun yang tercantum dalam surat kolektif yang 
	mempunyai jumlah harga nominal sampai dengan Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah) dikenakan Bea 
	Meterai dengan tarif sebesar Rp 3.000,00 (tiga ribu rupiah) sedangkan yang mempunyai harga nominal 
	lebih dari Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah) dikenakan Bea Meterai dengan tarif sebesar Rp 6.000,00 
	(enam ribu rupiah).


						Pasal 5

Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini, maka Peraturan Pemerintah Republik Indonesia  Nomor 7 Tahun 
1995 tentang Perubahan Tarif Bea Meterai, dinyatakan tidak berlaku.


						Pasal 6

Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan Peraturan Pemerintah ini ditetapkan oleh Menteri Keuangan.


						Pasal 7

Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal 1 Mei 2000.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan 
penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.




								Ditetapkan di Jakarta
								pada tanggal 20 April 2000
								PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

								ttd.

								ABDURRAHMAN WAHID

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 20 April 2000
Pj. SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA,

ttd.

BONDAN GUNAWAN



		     LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2000 NOMOR 51





					          PENJELASAN
						   ATAS

			        PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
					  NOMOR 24 TAHUN 2000

						TENTANG

		            PERUBAHAN TARIF BEA METERAI DAN BESARNYA BATAS
		       PENGENAAN HARGA NOMINAL YANG DIKENAKAN BEA METERAI


UMUM

Negara Republik Indonesia adalah negara hukum berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang 
menjunjung tinggi hak dan kewajiban yang sama kepada semua Warga Negara untuk berperan serta dalam 
pembangunan.

Dalam rangka menyesuaikan dengan perkembangan ekonomi dan untuk meningkatkan keikutsertaan segenap 
warga masyarakat untuk berperan serta menghimpun dana pembangunan, maka salah satu cara dalam 
mewujudkannya adalah dengan memenuhi kewajiban pembayaran Bea Meterai atas dokumen-dokumen 
tertentu yang digunakan.

Besarnya tarif Bea Meterai yang berlaku sekarang sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan sosial 
ekonomi masyarakat sehingga perlu dilakukan penyesuaian yang wajar. Sesuai dengan Pasal 3 Undang-undang 
Nomor 13 TAHUN 1985 tentang Bea Meterai, dengan Peraturan Pemerintah dapat ditetapkan besarnya tarif 
Bea Meterai dan besarnya batas pengenaan harga nominal yang dikenakan Bea Meterai, dapat ditiadakan, 
diturunkan, dinaikkan setinggi-tingginya 6 (enam) kali.

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas maka perlu diatur kembali mengenai besarnya tarif Bea Meterai dan 
besarnya batas pengenaan harga nominal yang dikenakan Bea Meterai dengan Peraturan Pemerintah.


PASAL DEMI PASAL

Pasal 1

	Huruf a

		Pihak-pihak yang memegang surat perjanjian atau surat-surat lainnya tersebut, dibebani 
		kewajiban untuk membayar Bea Meterai atas surat perjanjian atau surat-surat yang 
		dipegangnya.

		Yang dimaksud surat-surat lainnya pada huruf a ini antara lain surat kuasa, surat hibah, dan 
		surat pernyataan.

	Huruf b

		Cukup jelas

	Huruf c

		Cukup jelas

	Huruf d dan huruf e

		Jumlah uang ataupun harga nominal yang disebut dalam huruf d dan huruf e ini juga meliputi 
		jumlah uang ataupun harga nominal yang dinyatakan dalam mata uang asing.

		Untuk menentukan nilai rupiahnya, maka jumlah uang atau harga nominal tersebut dikalikan 
		dengan nilai tukar (kurs) yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan yang berlaku pada saat 
		dokumen itu dibuat, sehingga dapat diketahui apakah dokumen tersebut dikenakan atau tidak 
		dikenakan Bea Meterai.

	Huruf f

		Ketentuan ini dimaksudkan untuk mengenakan Bea Meterai atas surat-surat yang semula tidak 
		kena Bea Meterai, tetapi karena kemudian digunakan sebagai alat pembuktian di muka 
		pengadilan, maka lebih dahulu harus dilakukan pemeteraian kemudian.

		Angka 1)

			Surat-surat yang dimaksud huruf f angka 1 ini tidak untuk tujuan sesuatu pembuktian, 
			misalnya seseorang mengirim surat biasa kepada orang lain untuk menjualkan sebuah 
			barang. Surat semacam ini pada saat dibuat tidak kena Bea Meterai, tetapi apabila 
			kemudian dipakai sebagai alat pembuktian di muka pengadilan, maka terlebih dahulu 
			dilakukan pemeteraian kemudian.

			Surat-surat kerumahtanggaan, misalnya daftar harga barang. Daftar ini dibuat tidak 
			dimaksudkan untuk digunakan sebagai alat pembuktian, oleh karena itu tidak 
			dikenakan Bea Meterai. Apabila kemudian ada sengketa dan daftar harga barang ini 
			digunakan sebagai alat pembuktian, maka daftar harga ini terlebih dahulu dilakukan 
			pemeteraian kemudian.

		Angka 2)

			Surat-surat yang dimaksud dalam huruf f angka 2 ini ialah surat-surat yang karena 
			tujuannya tidak dikenakan Bea Meterai, tetapi apabila tujuannya kemudian diubah 
			maka surat yang demikian itu dikenakan Bea Meterai.

			Misalnya tanda penerimaan uang yang dibuat dengan tujuan untuk keperluan intern 
			organisasi tidak dikenakan Bea Meterai. Apabila kemudian tanda penerimaan uang 
			tersebut digunakan sebagai alat pembuktian di muka pengadilan, maka tanda 
			penerimaan uang tersebut harus dilakukan pemeteraian kemudian terlebih dahulu.

Pasal 2

	Ayat (1)

		Dokumen sebagaimana dimaksud pada Pasal 2 ayat (1) yang dikenakan Bea Meterai dengan 
		tarif Rp 6.000,00 (enam ribu rupiah) adalah dokumen yang semula berdasarkan Undang-
		undang Nomor 13 TAHUN 1985 tentang Bea Meterai dikenakan Bea Meterai dengan tarif 
		sebesar Rp 1.000,00 (seribu rupiah). Kemudian dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 
		1995 tentang Perubahan Tarif Bea Meterai dikenakan Bea Meterai dengan tarif sebesar 
		Rp 2.000,00 (dua ribu rupiah).

	Ayat (2)

		Huruf a

			Dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) huruf a yang tidak dikenakan 
			Bea Meterai adalah dokumen yang semula berdasarkan Undang-undang Nomor 13 
			Tahun 1985 tentang Bea Meterai dikenakan Bea Meterai dengan tarif sebesar 
			Rp 500,00 (lima ratus rupiah). Kemudian dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 
			Tahun 1995 tentang Perubahan Tarif Bea Meterai tidak dikenakan Bea Meterai;

		Huruf b

			Dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) huruf b yang dikenakan Bea 
			Meterai dengan tarif Rp 3.000,00 (tiga ribu rupiah) adalah dokumen yang semula 
			berdasarkan Undang-undang Nomor 13 TAHUN 1985 tentang Bea Meterai dikenakan 
			Bea Meterai dengan tarif sebesar Rp 500,00 (lima ratus rupiah). Kemudian dengan 
			Peraturan Pemerintah Nomor 7 TAHUN 1995 tentang Perubahan Tarif Bea Meterai 
			dikenakan Bea Meterai dengan tarif sebesar Rp 1.000,00 (seribu rupiah);

		Huruf c

			Dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) huruf c yang dikenakan Bea  
			Meterai dengan tarif Rp 6.000,00 (enam ribu rupiah) adalah dokumen yang semula 
			berdasarkan Undang-undang Nomor 13 TAHUN 1985 tentang Bea Meterai dikenakan 
			Bea Meterai dengan tarif sebesar Rp 1.000,00 (seribu rupiah), kemudian dengan 
			Peraturan Pemerintah Nomor 7 TAHUN 1995 tentang Perubahan Tarif Bea Meterai 
			dikenakan Bea Meterai dengan tarif sebesar Rp 2.000,00 (dua ribu rupiah).

Pasal 3

	Dalam Pasal ini ditetapkan penggunaan Bea Meterai dengan tarif tunggal atas Cek dan Bilyet Giro 
	sebesar Rp 3.000,00 (tiga ribu rupiah).

	Untuk menunjang kelancaran pelaksanaan otomasi kliring, maka pengenaan tarif Bea Meterai sebesar 
	Rp 3.000,00 (tiga ribu rupiah) tersebut dengan tidak memperhatikan besarnya harga nominal dari Cek 
	dan Bilyet Giro. Oleh karena itu, dalam penyelenggaraan kliring, Bank cukup menyediakan 1 (satu) 
	macam bentuk buku Cek dan 1 (satu) macam bentuk buku Bilyet Giro.

	Semula berdasarkan Undang-undang Nomor 13 TAHUN 1985 tentang Bea Meterai atas Cek dan Bilyet 
	Giro dikenakan Bea Meterai sebesar Rp 500,00 (lima ratus rupiah) dan Rp 1.000,00 (seribu rupiah), 
	dengan memperhatikan besarnya harga nominal. Kemudian dengan Peraturan Pemerintah Nomor 13 
	Tahun 1989 tentang Perubahan Besarnya Tarif Bea Meterai dan Besarnya Batas Harga Nominal yang 
	Dikenakan Bea Meterai atas Cek dan Bilyet Giro, diubah menjadi Rp 500,00 (lima ratus rupiah), 
	dengan tidak memperhatikan besarnya harga  nominal. Terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 
	7 TAHUN 1995 tentang Perubahan Tarif Bea Meterai, diubah  menjadi Rp 1.000,00 (seribu rupiah), 
	dengan tidak memperhatikan besarnya harga nominal.

Pasal 4

	Ayat (1)

		Efek dengan nama dan dalam bentuk apapun sebagaimana dimaksud dalam  Pasal 4 ayat (1) 
		dikenakan Bea Meterai berdasarkan harga nominal per lembar.

	Ayat (2)

		Sekumpulan efek dengan nama dan dalam bentuk apapun yang tercantum dalam surat kolektif 
		sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) dikenakan Bea Meterai berdasarkan jumlah 
		harga nominal dari sekumpulan efek tersebut.

Pasal 5

	Cukup jelas

Pasal 6

	Pelaksanaan teknis yang diatur oleh Menteri Keuangan antara lain bentuk, ukuran, dan warna benda 
	meterai, tata cara pelunasan Bea Meterai, pengadaan dan pengelolaan Benda Meterai.

Pasal 7

	Cukup jelas



		     TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3950
Peraturan Terkait

Historis Peraturan

Komentar



© PajakOnline.com |  ‹ Dibaca 3729 kali - Dicetak 0 kali ›