PajakOnline | Aliansi Ekonom Indonesia mendesak pemerintah segera melakukan perbaikan kebijakan untuk mengembalikan stabilitas perekonomian nasional. Aliansi ini mewadahi 383 ekonom dan 283 pemerhati ekonomi di seluruh Indonesia serta para diaspora.
Salah satu inisiator Aliansi Ekonom Indonesia, Lili Yan Ing, menyatakan perekonomian Indonesia saat ini tengah tertekan oleh faktor global. Sementara di dalam negeri, gelombang protes publik menjadi alarm serius atas kondisi ekonomi saat ini.
"Situasi ini bukan tiba-tiba terjadi, melainkan akumulasi dari kebijakan ekonomi, proses pengambilan keputusan, dan praktik bernegara yang jauh dari amanah," kata Lili dalam konferensi pers, dikutip hari ini.
Menurutnya, kondisi tersebut memicu meningkatnya ketidakadilan sosial di Indonesia. Oleh karena itu, ratusan ekonom yang tergabung dalam aliansi menuntut adanya reformasi kebijakan demi mengembalikan arah ekonomi Indonesia.
"Mengamati dinamika saat ini, para ekonom menilai arah kehidupan bernegara makin jauh dari cita-cita keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia," katanya.
Sebagai langkah konkret, Aliansi Ekonom Indonesia menyampaikan 7 desakan darurat ekonomi:
1. Perbaikan APBN - kurangi porsi belanja program populis Rp1.414 triliun (37,4% APBN 2026) seperti MBG, hilirisasi, subsidi energi, dan Koperasi Desa Merah Putih, karena dinilai mengorbankan pendidikan, kesehatan, serta kesejahteraan tenaga medis dan guru.
2. Pemulihan independensi lembaga negara - seperti KPK, BI, BPK, DPR, dan BPS agar terbebas dari intervensi politik.
