PajakOnline | Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan realisasi belanja negara sepanjang 2024 mencapai Rp3.350,3 triliun atau 100,8 persen dari target yang telah ditetapkan. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 7,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara menjelaskan, alokasi tersebut terdiri atas belanja pemerintah pusat sebesar Rp2.486,7 triliun dan transfer ke daerah sebesar Rp863,5 triliun. Menurutnya, belanja negara berperan penting sebagai penahan dampak risiko global (shock absorber) sekaligus sebagai agen pembangunan (agent of development).
“Belanja negara adalah alat shock absorber dan juga adalah agent of development. Kita menggunakan belanja negara sebagai shock absorber untuk mengelola perekonomian yang dibayang-bayangi oleh risiko ketidakpastian yang tinggi,” ujar Suahasil dalam Konferensi Pers APBN Kita Edisi Januari 2025 di Jakarta.
Sebagai penahan dampak risiko global, belanja negara dirancang untuk melindungi masyarakat dan menjaga stabilitas ekonomi. Realisasinya mencakup berbagai kebijakan strategis, seperti bantuan pangan untuk mengatasi dampak El Nino dan menjaga stabilitas harga, subsidi energi untuk menstabilkan harga BBM, listrik, dan LPG, serta subsidi pupuk yang mendukung produktivitas petani.
Bantuan sosial juga disalurkan melalui Program Keluarga Harapan (PKH), Kartu Sembako, PIP, hingga PBI JKN untuk mempertahankan daya beli masyarakat miskin. Selain itu, Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) turut mempermudah akses UMKM terhadap pembiayaan.
Selain sebagai shock absorber, belanja negara mendukung agenda pembangunan, termasuk pelaksanaan Pemilu dan Pilkada Serentak, penurunan kemiskinan ekstrem dan stunting, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, serta percepatan proyek strategis nasional dan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
