Jakarta, PajakOnline – Journalist Club dengan penuh keprihatinan mencermati eskalasi konflik bersenjata yang terjadi di Iran antara pasukan Iran dan koalisi AS–Israel, yang telah memicu aksi militer besar-besaran, termasuk serangan udara dan serangan balasan di berbagai wilayah Timur Tengah.
Perang yang berkecamuk ini bukan hanya berimplikasi pada wilayah kawasan, tetapi telah berdampak sistemik dan serius terhadap keamanan energi serta kesejahteraan umat manusia di seluruh dunia.
Konflik yang berlangsung telah menyebabkan kondisi di kawasan Teluk Persia semakin memburuk, dan baru-baru ini pihak Iran melalui Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia, melalui Laut Oman. Selat ini selama ini menjadi rute utama bagi pengangkutan minyak dan gas yang memasok sekitar 15–20 % pasokan energi global setiap harinya.
Penutupan Selat Hormuz dan gangguan operasi maritim yang terjadi akibat perang telah memaksa sejumlah kapal pengangkut minyak dan kontainer berhenti beroperasi, meningkatkan risiko kekurangan energi di banyak negara dan menekan harga komoditas energi dunia.
Dampak terhadap pasokan bahan bakar ini juga telah sampai ke negara-negara importer seperti Indonesia, yang tengah mengantisipasi potensi gangguan pasokan energi nasional.
"Journalist Club mengecam keras terjadinya perang termasuk agresi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap negara berdaulat Iran yang telah melanggar Piagam PBB dan menegasikan perdamaian dunia. Perang di manapun hanya membawa kesengsaraan dan penderitaan bagi seluruh umat manusia," kata Juru Bicara Presidium Journalist Club Boy Iskandar.
Perang menyebabkan jatuhnya korban sipil, kerusakan infrastruktur, serta krisis kemanusiaan yang luas di Iran dan negara-negara tetangga. Dampaknya dirasakan langsung oleh keluarga, anak-anak, dan warga tidak bersalah yang hak-hak dasar mereka terganggu akibat konflik bersenjata ini.
Mengancam Stabilitas Pasokan Energi Dunia
Gangguan terhadap Selat Hormuz, sebagai salah satu jalur energi paling vital di dunia berpotensi menghentikan arus minyak dan gas dalam skala global. Ini dapat memicu gejolak harga energi, kelangkaan bahan bakar, dan tekanan ekonomi, terutama bagi negara-negara berkembang yang sangat bergantung pada impor energi.
Mengancam Perekonomian Global
Ketidakpastian geopolitik membuat investor dan pelaku pasar berhati-hati, harga minyak dunia melambung, biaya logistik meningkat, dan tekanan inflasi semakin besar. Hal ini memperburuk krisis ekonomi yang sudah dirasakan di banyak negara, merugikan masyarakat luas, bukan hanya negara yang terlibat dalam konflik.
"Oleh karena itu, Journalist Club mengimbau komunitas internasional, organisasi kemanusiaan, pemerintah negara-negara terkait, serta seluruh pihak yang berpengaruh untuk segera:
• Mendorong gencatan senjata dan penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik demi menghentikan aksi militer yang mengakibatkan korban dan penderitaan lebih besar lagi.
• Memfasilitasi negosiasi damai antara semua pihak yang berkonflik agar tercipta solusi yang adil, manusiawi, dan berkelanjutan.
"Journalist Club mengapresiasi Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang bersedia menjadi mediator dalam upaya mencari solusi damai antarnegara yang bertikai," kata Boy Iskandar.
• Menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz dan jalur perairan internasional lainnya untuk menjamin keberlangsungan pasokan energi, perdagangan, dan stabilitas ekonomi global;
• Memberikan bantuan kemanusiaan yang cepat, efektif, dan tanpa diskriminasi kepada mereka yang terdampak peperangan.
Journalist Club menegaskan kembali bahwa perang tidak pernah membawa kemenangan absolut, yang ada hanya penderitaan, kerugian, dan dampak kemanusiaan yang mendalam.
Dunia ini lebih membutuhkan dialog daripada senjata, perdamaian daripada permusuhan, dan solusi bersama, daripada kekerasan yang memperburuk krisis global.
Akhiri perang! Selamatkan kehidupan, stabilkan masa depan dunia.
