Perkembangan Perekonomian sampai dengan 31 Oktober 2024, pelonggaran kebijakan moneter global terus berlanjut di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat pada kuartal ketiga tahun ini masih tercatat cukup baik (2,7 persen yoy), sementara kawasan Eropa masih mengalami stagnasi. Keputusan penurunan suku bunga oleh Bank Sentral Eropa (ECB) pada Oktober (3,4 persen) dan Bank of England (BoE) pada November (4,75 persen) menjadi indikasi dari upaya stimulasi ekonomi di kawasan tersebut. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia, termasuk Vietnam, Malaysia, Indonesia, dan Singapura, menunjukkan tren positif.
Namun, pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada kuartal ketiga mengalami perlambatan (4,6 persen yoy), menjadi yang terendah sejak pertengahan tahun 2023. Eskalasi konflik di Timur Tengah menimbulkan kekhawatiran akan potensi dampak negatif yang lebih luas terhadap perekonomian global.
Inflasi di wilayah Jawa Barat pada bulan Oktober masih terkendali. Tercatat terdapat kenaikan inflasi sebesar 1,92 persen (yoy) dan IHK mencapai 106,70. Kenaikan harga komoditas seperti beras, emas perhiasan, dan produk tembakau menjadi faktor yang mendorong inflasi pada periode tersebut.
Neraca perdagangan Jawa Barat surplus di angka USD 2,24 M. Ekspor USD 3,24 M, sementara Impor sebesar USD 1,00 M.
Nilai Tukar Petani (NTP) Nilai Tukar Petani (NTP) turun menjadi 111,27 sedangkan Nilai Tukar Nelayan (NTN) naik menjadi 112,18.
APBN kembali mencatatkan surplus sebesar Rp21,03 triliun dengan total pendapatan
sampai 31 Oktober 2024 mencapai Rp125,31 triliun (74,82 persen dari APBN, sementara total belanja mencapai Rp104,28 triliun (81,17 persen dari APBN).
Pendapatan Wilayah Jabar tumbuh sebesar 2,80% (yoy) atau senilai Rp3,41 triliun. Kenaikan terbesar terjadi pada Pendapatan BLU yang tumbuh 21,89 persen atau senilai 0,57 triliun dan Pajak penghasilan Non Migas yang tumbuh 10,01 persen atau senilai Rp4,45 triiun.
Kenaikan Bea Masuk sebesar 6,52 persen karena terdapat importasi Bulog dan realisasi pelunasan dari hasil audit cukup signifikan. Selain itu, Pendapatan Negara dari sektor pajak juga menunjukan perkembangan yang positif menjelang akhir tahun anggaran ini.
Di tengah gejolak perekonomian, penerimaan dari sektor perpajakan masih tumbuh positif sebesar 4,93 persen.
Kinerja Belanja Pemerintah Pusat mengalami pertumbuhan sebesar 11,50 persen atau senilai Rp10,76 triliun. Pertumbuhan terjadi pada semua jenis belanja kecuali Belanja Modal.
Pertumbuhan terbesar pada belanja Barang sebesar 19,33 persen atau senilai Rp2,76 triliun seiring aktivitas ekonomi Jawa Barat yang masih tumbuh positif.
Realisasi TKD tumbuh sebesar 10,90 persen (yoy) pertumbuhan terjadi di semua jenis Dana Transfer. Realisasi terbesar pada DAU sebesar Rp34,10 triliun. Pertumbuhan tertinggi pada Dana Insentif Fiskal (DIF) sebesar 54,16% karena meningkatnya pemda yang mendapat DIF seiring peningkatan kinerja Pemerintah Daerah di Provinsi Jawa Barat.
Keseimbangan Primer menunjukkan surplus sebesar Rp21,03 triliun yang lebih kecil jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Semakin membaiknya kinerja penerimaan perpajakan dan PNBP memberikan andil yang kuat dalam menciptakan angka surplus.
Penerimaan pajak s.d. Oktober 2024 mencapai Rp 95,865 triliun. Penerimaan pajak tahun 2024 tumbuh positif sebesar 4,93 persen (Rp. 4,507 triliun), dibandingkan periode yang sama tahun 2023. Jenis pajak PPh Non Migas mengalami peningkatan sebesar 10,01persen (Rp4,453 triliun). Dari lima jenis pajak, kelompok PPN dan PPnBM mengalami pertumbuhan 0,13 persen (Rp12 miliar) dibanding periode yang sama tahun lalu. PBB mengalami pertumbuhan sebesar 12,06 persen (Rp60 miliar) dibandingkan periode Oktober 2023.
Jika dilihat dari realisasi per bulan, secara neto, pada realisasi bulan Oktober 2024 sebesar Rp. 10,38 triliun. Lebih besar jika dibanding realisasi netto bulan Oktober 2023 sebesar Rp. 9,03 triliun.
