PajakOnline | Menjelang Idul Adha 2025, penjualan hewan kurban di Indonesia mengalami penurunan signifikan, dengan total transaksi mencapai Rp27 triliun. Angka ini lebih rendah dibandingkan saat pandemi COVID-19, mencerminkan dampak dari pelemahan daya beli masyarakat dan kondisi ekonomi yang lesu.
Data dari Indonesian Development and Islamic Studies (IDEAS) menunjukkan bahwa nilai ekonomi kurban tahun ini stagnan di angka Rp24,4 triliun, tidak jauh berbeda dari tahun sebelumnya.
Penurunan ini terjadi meskipun pandemi telah berakhir dan mobilitas masyarakat kembali normal.
IDEAS melakukan kajian terkait dengan potensi ekonomi kurban pada 2025. Simulasi lembaga tersebut menunjukkan terjadi penurunan proyeksi Jumlah pekurban tahun ini dibanding tahun 2024 lalu.
Pada 2024 terdapat sekitar 2,16 juta pekurban, sedangkan tahun 2025 ini jumlahnya sekitar 1,92 juta pekurban. "Artinya, ada penurunan potensi sekitar 233 ribu pekurban dalam satu tahun terakhir," kata Tira Mutiara IDEAS dalam keterangannya, dikutip Kamis (5/6/2025).
Dia menambahkan dari 1,92 juta rumah tangga muslim berdaya beli tinggi yang berpotensi menjadi pekurban pada 2025 ini, kebutuhan hewan kurban terbesar berasal dari domba dan kambing (doka) sekitar 1,1 juta ekor. Sedangkan sapi sekitar 503 ribu ekor.

"Selain itu, kami juga memproyeksikan potensi nilai ekonomi kurban Indonesia tahun 2025 sebesar Rp27,1 triliun. Proyeksi ini juga turun dari proyeksi tahun sebelumnya (2024) yang diestimasikan mencapai Rp28,3 triliun," kata Tira.
Bahkan menurut Tira, jika ditarik lebih jauh ke belakang, estimasi jumlah pekurban tahun 2025 ini yang sebesar 1,92 juta pekurban lebih rendah dibanding saat pandemi Covid-19 lalu. Yaitu berkisar 2,11 juta pekurban (2021) dan 2,17 juta pekurban (2022).
Di berbagai daerah, penurunan penjualan hewan kurban juga dirasakan oleh para pedagang. Di Magelang, penjualan sapi dan kerbau menurun akibat faktor ekonomi dan berdekatan dengan penerimaan siswa baru.
Sementara itu, di Kudus, penjualan hewan kurban lesu karena masa panen yang tidak maksimal.
