TRENDING
Kunjungan Wisatawan Mancanegara 12,01 Juta hingga September 2026, Pariwisata Indonesia Terus TumbuhEkonomi Indonesia Menguat, Optimistis Momentum Pertumbuhan di Tengah Tekanan GlobalBukan Pajak Baru, Pungutan PPN Hanya untuk Transaksi Barang dan Jasa Digital Luar NegeriBEI Evaluasi Insentif Pajak Emiten, Tarif PPh Badan 19 Persen Jadi Daya Tarik Perusahaan Melantai di BursaPemprov DKI Jakarta Kembali Hapus Denda Pajak Kendaraan hingga 31 Desember 2026, Berlaku Otomatis Tanpa PermohonanSoal Transfer Uang Pribadi Kena Pajak, Ini Kata DJPNeraca Perdagangan Indonesia September 2026 Surplus USD3,36 Miliar, Defisit Migas Jadi PerhatianHarga Pangan Melonjak Awal November Ini, Bawang Merah Rp70.000 dan Cabai Rawit Tembus Rp124.400 per KgEkspor Indonesia Tembus USD221,23 Miliar hingga September 2026, Industri Pengolahan Jadi Motor PertumbuhanDJP Tunjuk 3 Pemungut Baru, Kepatuhan Pajak Ekonomi Digital DiperkuatPenerimaan Pajak Riau Capai Rp13,23 Triliun, Tumbuh 28,97 Persen hingga September 2026Pajak Fintech Terkumpul Rp5,40 Triliun hingga September 2026Penerimaan Pajak Kripto Capai Rp2,18 Triliun hingga September 2026Setoran Pajak Digital Capai Rp58,75 Triliun hingga September 2026Indonesia Perkuat Kerja Sama Pajak Global, Dirjen Pajak Tanda Tangani GIR MCAAViral Pajak Pembalut, DJP Ungkap Alasan Dikenakan PPNKunjungan Wisatawan Mancanegara 12,01 Juta hingga September 2026, Pariwisata Indonesia Terus TumbuhEkonomi Indonesia Menguat, Optimistis Momentum Pertumbuhan di Tengah Tekanan GlobalBukan Pajak Baru, Pungutan PPN Hanya untuk Transaksi Barang dan Jasa Digital Luar NegeriBEI Evaluasi Insentif Pajak Emiten, Tarif PPh Badan 19 Persen Jadi Daya Tarik Perusahaan Melantai di BursaPemprov DKI Jakarta Kembali Hapus Denda Pajak Kendaraan hingga 31 Desember 2026, Berlaku Otomatis Tanpa PermohonanSoal Transfer Uang Pribadi Kena Pajak, Ini Kata DJPNeraca Perdagangan Indonesia September 2026 Surplus USD3,36 Miliar, Defisit Migas Jadi PerhatianHarga Pangan Melonjak Awal November Ini, Bawang Merah Rp70.000 dan Cabai Rawit Tembus Rp124.400 per KgEkspor Indonesia Tembus USD221,23 Miliar hingga September 2026, Industri Pengolahan Jadi Motor PertumbuhanDJP Tunjuk 3 Pemungut Baru, Kepatuhan Pajak Ekonomi Digital DiperkuatPenerimaan Pajak Riau Capai Rp13,23 Triliun, Tumbuh 28,97 Persen hingga September 2026Pajak Fintech Terkumpul Rp5,40 Triliun hingga September 2026Penerimaan Pajak Kripto Capai Rp2,18 Triliun hingga September 2026Setoran Pajak Digital Capai Rp58,75 Triliun hingga September 2026Indonesia Perkuat Kerja Sama Pajak Global, Dirjen Pajak Tanda Tangani GIR MCAAViral Pajak Pembalut, DJP Ungkap Alasan Dikenakan PPN
PajakOnline
Beranda
Berita Pajaknews
Hubungi KamiKebijakan Privasi
← Semua berita

Headlines

Kunjungan Wisatawan Mancanegara 12,01 Juta hingga September 2026, Pariwisata Indonesia Terus Tumbuh

·

Kunjungan Wisatawan Mancanegara 12,01 Juta hingga September 2026, Pariwisata Indonesia Terus Tumbuh

Jakarta, PajakOnline – Sektor pariwisata Indonesia menunjukkan perkembangan positif sepanjang 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) mencapai 12,01 juta kunjungan selama Januari–September 2026.

Angka tersebut meningkat 5,01 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian ini sekaligus menjadi jumlah kunjungan tertinggi sejak 2020, meskipun masih sedikit di bawah catatan Januari–September 2019 yang mencapai 12,10 juta kunjungan.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyampaikan, perkembangan tersebut dalam Rilis Berita Resmi Statistik di Jakarta, dikutip Selasa (3/11/2026).

"Secara kumulatif, sepanjang Januari sampai dengan September tahun 2026, total kunjungan wisman mencapai 12,01 juta kunjungan atau meningkat 5,01 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2025," kata Ateng.

Menurut BPS, peningkatan tersebut menunjukkan bahwa daya tarik pariwisata Indonesia di pasar internasional masih terjaga di tengah dinamika ekonomi global dan persaingan industri pariwisata antarnegara.

Secara bulanan, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada September 2026 tercatat sebanyak 1.427.114 kunjungan.

Jumlah tersebut meningkat 2,31 persen dibandingkan September 2025. Namun, secara bulanan mengalami penurunan 10,79 persen dibandingkan Agustus 2026.

Dari total kunjungan tersebut, sebanyak 1.283.308 kunjungan melalui pintu masuk utama, sedangkan 144.806 kunjungan lainnya melalui pintu masuk perbatasan.

Penurunan secara bulanan perlu dicermati karena menunjukkan bahwa pertumbuhan pariwisata tidak selalu berlangsung merata setiap bulan. Faktor musim liburan, ketersediaan penerbangan, kondisi ekonomi negara asal wisatawan, dan dinamika perjalanan internasional dapat memengaruhi jumlah kedatangan.

Malaysia, Australia, dan Tiongkok Menjadi Pasar Utama

Berdasarkan negara asal paspor, wisatawan dari Malaysia menjadi kelompok terbesar yang berkunjung ke Indonesia pada September 2026 dengan kontribusi 16,76 persen.

Selanjutnya, Australia menyumbang 12,43 persen dan Tiongkok sebesar 10,76 persen.

Komposisi tersebut menunjukkan bahwa pasar Asia Tenggara, Australia, dan Tiongkok masih menjadi sumber penting kunjungan wisatawan internasional ke Indonesia.

Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, menjadi salah satu pintu masuk utama dengan jumlah kunjungan wisman terbanyak. Wisatawan pemegang paspor Australia mendominasi kedatangan melalui bandara tersebut.

Bali tetap menjadi destinasi unggulan, tetapi pengembangan pariwisata nasional juga perlu diarahkan pada destinasi lain untuk memperluas distribusi manfaat ekonomi ke berbagai daerah.

Wisatawan Asing Belanja Rata-Rata USD1.374 per Kunjungan

Peningkatan jumlah wisatawan juga diikuti kenaikan rata-rata pengeluaran selama berada di Indonesia.

BPS mencatat rata-rata pengeluaran wisatawan mancanegara pada triwulan III 2026 mencapai USD1.374,48 per kunjungan.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan triwulan II 2026 maupun triwulan III 2025. Sementara itu, rata-rata lama tinggal wisatawan mencapai 11,01 malam.

Berdasarkan komponen pengeluaran, akomodasi menjadi pos terbesar dengan rata-rata US$497,12 per kunjungan.

Pengeluaran untuk makanan dan minuman mencapai USD271,33, sedangkan belanja dan cendera mata mencapai USD148,93.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyoroti peluang ekonomi dari meningkatnya pengeluaran wisatawan, terutama pada sektor makanan dan minuman.

Menurut Ateng, besarnya pengeluaran wisatawan untuk kuliner membuka peluang bagi pelaku usaha, termasuk generasi muda, untuk mengembangkan bisnis makanan dan minuman yang memiliki daya saing.

Sebanyak 79 Persen Wisman Datang untuk Berlibur

BPS juga mengungkapkan karakteristik perjalanan wisatawan mancanegara selama triwulan III 2026.

Sebanyak 79 persen wisatawan datang ke Indonesia dengan tujuan utama berlibur. Sementara itu, 60,95 persen wisatawan memilih hotel berbintang sebagai akomodasi selama berada di Indonesia.

Data tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan rekreasi dan liburan masih menjadi penggerak utama permintaan jasa pariwisata.

Kondisi ini memberikan peluang bagi industri perhotelan, restoran, transportasi, biro perjalanan, penyedia aktivitas wisata, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang bergerak di sekitar destinasi wisata.

Perjalanan Wisatawan Nusantara Capai 938,84 Juta

Tidak hanya wisatawan asing, pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) juga menunjukkan pertumbuhan positif.

BPS mencatat perjalanan wisatawan nusantara pada September 2026 mencapai 96,69 juta perjalanan atau meningkat 2,47 persen dibandingkan September 2025.

Secara kumulatif, perjalanan wisatawan domestik sepanjang Januari–September 2026 mencapai 938,84 juta perjalanan. Jumlah tersebut tumbuh 4,10 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Menurut Ateng Hartono, capaian perjalanan wisatawan nusantara selama Januari–September 2026 merupakan yang tertinggi sejak 2019.

Peningkatan mobilitas masyarakat menjadi peluang bagi daerah untuk mengembangkan ekonomi lokal melalui destinasi wisata, transportasi, akomodasi, kuliner, dan perdagangan.

Pariwisata Menjadi Penggerak Ekonomi Daerah

Pertumbuhan pariwisata memiliki dampak ekonomi yang luas karena melibatkan banyak sektor usaha.

Peningkatan kunjungan wisatawan dapat mendorong permintaan kamar hotel, restoran, transportasi udara dan darat, jasa perjalanan, produk kerajinan, serta berbagai layanan pendukung destinasi wisata.

Dampaknya juga berpotensi meningkatkan pendapatan masyarakat dan penerimaan pemerintah daerah melalui aktivitas ekonomi yang berkembang.

Namun, peningkatan jumlah wisatawan perlu diikuti peningkatan kualitas layanan, infrastruktur, kebersihan destinasi, keamanan, dan perlindungan lingkungan.

Pemerintah daerah juga perlu memastikan bahwa manfaat ekonomi pariwisata tidak hanya terkonsentrasi pada destinasi populer, tetapi dapat menjangkau pelaku UMKM dan masyarakat di kawasan wisata lainnya.

Tantangan Meningkatkan Devisa dan Kualitas Pariwisata

Meskipun jumlah kunjungan wisatawan mancanegara telah mencapai 12,01 juta, pemerintah masih menghadapi tantangan untuk meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia.

Persaingan dengan negara tujuan wisata lain, konektivitas penerbangan, kualitas infrastruktur, kemudahan perjalanan, serta promosi internasional menjadi faktor penting.

Selain mengejar jumlah kedatangan, pemerintah perlu memperhatikan rata-rata lama tinggal dan pengeluaran wisatawan agar kontribusi pariwisata terhadap perekonomian semakin besar.

Pengembangan destinasi berkualitas, wisata budaya, wisata bahari, wisata alam, dan wisata kuliner dapat menjadi strategi untuk meningkatkan nilai ekonomi setiap kunjungan.

Berita lainnya di Headlines