Jakarta, PajakOnline – Direktorat Jenderal Pajak (DJP) memperkuat pelaksanaan pengawasan kepatuhan wajib pajak melalui penerbitan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-8/PJ/2026. Pedoman ini menegaskan bahwa pengawasan dilaksanakan dengan pendekatan berbasis data dan analisis risiko untuk meningkatkan efektivitas pengawasan sekaligus mendorong kepatuhan sukarela wajib pajak.
Dalam surat edaran tersebut, DJP mengoptimalkan pemanfaatan berbagai sumber data perpajakan, hasil analisis kepatuhan, serta teknologi informasi dalam mengidentifikasi potensi ketidakpatuhan. Pendekatan ini memungkinkan pengawasan dilakukan secara lebih terukur dan objektif sehingga tindakan yang diambil sesuai dengan tingkat risiko masing-masing wajib pajak.
SE-8/PJ/2026 juga menegaskan bahwa Surat Permintaan Penjelasan atas Data dan/atau Keterangan (SP2DK) merupakan bagian dari proses pengawasan administratif, bukan pemeriksaan pajak. Melalui SP2DK, wajib pajak diberikan kesempatan untuk memberikan klarifikasi atau penjelasan atas data yang dimiliki DJP sebelum dilakukan langkah penegakan hukum lebih lanjut.
