Oleh: Eka L. Prasetya, Pemimpin Redaksi PajakOnline
Jakarta, PajakOnline — Perekonomian Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada triwulan II 2026 menumbuhkan optimisme. Pertumbuhan tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi nasional tetap ekspansif di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atas dasar harga berlaku pada triwulan II 2026 mencapai Rp6.552,1 triliun, sedangkan berdasarkan harga konstan 2010 mencapai Rp3.576,2 triliun.
Secara kuartalan, ekonomi Indonesia tumbuh 3,73 persen dibandingkan triwulan I 2026. Sementara secara kumulatif, ekonomi semester I 2026 tumbuh 5,45 persen dibandingkan semester I 2025.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah menjadi salah satu komponen dengan pertumbuhan paling tinggi. Konsumsi pemerintah pada triwulan II 2026 tumbuh 15,97 persen yoy.
Pertumbuhan tersebut ikut menopang aktivitas ekonomi melalui peningkatan belanja pemerintah dan berbagai program prioritas nasional.
BPS mencatat konsumsi rumah tangga juga tetap menjadi komponen penting dalam menopang permintaan domestik, sementara investasi dan aktivitas perdagangan turut memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.
Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan mencatat pertumbuhan 12,26 persen secara kuartalan pada triwulan II 2026.
Sementara jika dibandingkan dengan triwulan II 2025, lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi adalah Pengadaan Listrik dan Gas, yang tumbuh 10,81 persen yoy.
Pada semester I 2026, lapangan usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi, mencapai 11,83 persen.
Jawa Masih Menjadi Motor Ekonomi
Secara spasial, Pulau Jawa masih menjadi pusat aktivitas ekonomi nasional.
BPS mencatat Jawa memberikan kontribusi 56,47 persen terhadap struktur ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026. Ekonomi kawasan tersebut tumbuh 5,65 persen yoy.
Besarnya kontribusi Jawa menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi nasional masih terkonsentrasi di kawasan tersebut, meskipun pertumbuhan ekonomi juga berlangsung di berbagai wilayah Indonesia.
Suahasil Nazara Kini Menteri Keuangan
Perkembangan ekonomi tersebut kini berada di bawah kepemimpinan fiskal yang baru.
Presiden Prabowo Subianto melantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan pada 14 September 2026, menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Suahasil sebelumnya merupakan Wakil Menteri Keuangan dan memiliki pengalaman panjang di lingkungan Kementerian Keuangan.
Dalam pernyataan setelah pelantikannya, Suahasil menegaskan bahwa arahan Presiden adalah menjaga keuangan negara, termasuk kesehatan dan kredibilitas APBN.
“Selain APBN-nya harus sehat, dia juga harus kredibel, APBN itu harus dapat dipercaya,” kata Suahasil.
Suahasil juga menyampaikan komitmennya agar APBN tetap mampu menjalankan fungsi sebagai instrumen untuk mendorong pertumbuhan sekaligus menjaga stabilitas perekonomian.
Kinerja Ekonomi Tetap Resilien
Dalam perkembangan terbaru, Kementerian Keuangan menyampaikan bahwa perekonomian Indonesia tetap resilien di tengah gejolak global.
Menkeu Suahasil Nazara dalam konferensi pers APBN Kita (Kinerja dan Fakta) yang juga diikuti redaksi PajakOnline pada Edisi September 2026 menyampaikan, kinerja ekonomi Indonesia tetap menunjukkan ketahanan.
Pada saat yang sama, pemerintah berupaya menjaga kredibilitas fiskal dan memastikan APBN tetap berfungsi sebagai instrumen untuk mendukung perekonomian.
Kemenkeu juga melaporkan bahwa kinerja APBN hingga Agustus 2026 tetap berjalan sesuai jalur. Pemerintah menekankan pentingnya menjaga kesehatan dan kredibilitas APBN dalam menghadapi dinamika ekonomi global.
Tantangan Memasuki Semester II
Pertumbuhan 5,29 persen pada triwulan II dan 5,45 persen pada semester I menjadi modal memasuki paruh kedua 2026. Namun, perkembangan ekonomi global, perdagangan internasional, harga komoditas, nilai tukar, serta kondisi keuangan global tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Pergantian Menteri Keuangan juga menjadi konteks penting dalam pengelolaan ekonomi semester II. Dengan Suahasil Nazara kini memimpin Kementerian Keuangan, sekarang perhatian tidak hanya tertuju pada menjaga laju pertumbuhan, tetapi juga mempertahankan kesehatan, kredibilitas, dan efektivitas APBN.
*****


































