TRENDING
Menkeu Suahasil Buka Peluang Penghapusan Sanksi Pajak hingga Dua Tahun, Ini SyaratnyaPemkot Depok Beri Diskon PBB-P2 hingga 100 Persen, Warga Bisa Manfaatkan sampai 30 November 2026Keyakinan Konsumen Indonesia Turun pada September 2026, BI Catat Indeks 118,1DJP Terbitkan 454.377 SP2DK hingga September 2026, Wajib Pajak Diminta Siapkan Bukti PendukungPengadilan Pajak Umumkan Antrean Layanan Hari Ini, Wajib Pajak Diminta Perhatikan JadwalSebanyak 25 Aset Sitaan Pajak Senilai Rp17,8 Miliar di Kalbar Segera DilelangSebanyak 420.000 Wajib Pajak Orang Pribadi Kena PPh 35%Harga Minyak Tembus USD100, Risiko Ekonomi Global dan Indonesia MeningkatBank Dunia Naikkan Proyeksi Ekonomi Indonesia 2026 Menjadi 5,2%Simulasi Uji Kompetensi Perpajakan Digelar 12 Oktober 2026, Peserta Diminta Siapkan Perangkat dan JaringanKurs Pajak 7–13 Oktober 2026: Dolar AS Naik Jadi Rp17.935DJP Kejar Target Pajak Rp2.593,35 Triliun pada 2027, Ini StrateginyaBSU Rp900 Ribu untuk 13,3 Juta Pekerja Segera Disiapkan, Syarat dan Jadwal Pencairan Masih Menunggu AturanSatgas PKH Setor Rp13,24 Triliun ke Negara, Termasuk Penerimaan PajakTiga Indikator Ekonomi Menguat, Fundamental Indonesia Makin Terjaga Masuki Kuartal IV 2026Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29 Persen, Konsumsi dan Investasi Jadi PenopangMenkeu Suahasil Buka Peluang Penghapusan Sanksi Pajak hingga Dua Tahun, Ini SyaratnyaPemkot Depok Beri Diskon PBB-P2 hingga 100 Persen, Warga Bisa Manfaatkan sampai 30 November 2026Keyakinan Konsumen Indonesia Turun pada September 2026, BI Catat Indeks 118,1DJP Terbitkan 454.377 SP2DK hingga September 2026, Wajib Pajak Diminta Siapkan Bukti PendukungPengadilan Pajak Umumkan Antrean Layanan Hari Ini, Wajib Pajak Diminta Perhatikan JadwalSebanyak 25 Aset Sitaan Pajak Senilai Rp17,8 Miliar di Kalbar Segera DilelangSebanyak 420.000 Wajib Pajak Orang Pribadi Kena PPh 35%Harga Minyak Tembus USD100, Risiko Ekonomi Global dan Indonesia MeningkatBank Dunia Naikkan Proyeksi Ekonomi Indonesia 2026 Menjadi 5,2%Simulasi Uji Kompetensi Perpajakan Digelar 12 Oktober 2026, Peserta Diminta Siapkan Perangkat dan JaringanKurs Pajak 7–13 Oktober 2026: Dolar AS Naik Jadi Rp17.935DJP Kejar Target Pajak Rp2.593,35 Triliun pada 2027, Ini StrateginyaBSU Rp900 Ribu untuk 13,3 Juta Pekerja Segera Disiapkan, Syarat dan Jadwal Pencairan Masih Menunggu AturanSatgas PKH Setor Rp13,24 Triliun ke Negara, Termasuk Penerimaan PajakTiga Indikator Ekonomi Menguat, Fundamental Indonesia Makin Terjaga Masuki Kuartal IV 2026Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29 Persen, Konsumsi dan Investasi Jadi Penopang
PajakOnline
Beranda
Berita PajaknewsHubungi KamiKebijakan Privasi
← Semua beritaBerita

Keyakinan Konsumen Indonesia Turun pada September 2026, BI Catat Indeks 118,1

· · pajakonline.com

Jakarta, PajakOnline — Bank Indonesia (BI) mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia turun menjadi 118,1 pada September 2026, dari 118,5 pada Agustus 2026. Meski melemah 0,4 poin, keyakinan konsumen masih berada di zona optimistis karena indeks tetap di atas level 100.

Hasil Survei Konsumen yang diumumkan BI pada 8 Oktober 2026 tersebut menunjukkan kondisi ekonomi saat ini dinilai lebih lemah oleh konsumen, sementara ekspektasi terhadap perekonomian enam bulan ke depan justru meningkat.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyatakan bahwa survei September mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap terjaga. 

Kondisi ekonomi saat ini melemah

BI mencatat Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) pada September 2026 berada di level 107,5, turun dari 109,4 pada Agustus 2026.

Penurunan tersebut menunjukkan persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi yang sedang berlangsung mengalami pelemahan. IKE merupakan salah satu komponen utama pembentuk IKK, bersama Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK).

Melemahnya IKE perlu dicermati karena persepsi rumah tangga mengenai penghasilan, kesempatan kerja, dan kemampuan membeli barang tahan lama dapat memengaruhi keputusan konsumsi.

Namun, indeks yang masih berada di atas 100 menunjukkan bahwa secara agregat penilaian konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini masih berada dalam kategori optimistis. 

Ekspektasi ekonomi enam bulan ke depan meningkat

Di tengah pelemahan persepsi atas kondisi ekonomi saat ini, ekspektasi konsumen justru menunjukkan perbaikan.

BI mencatat IEK September 2026 mencapai 128,7, meningkat dibandingkan dengan 127,6 pada Agustus 2026. Indeks ini menggambarkan pandangan konsumen terhadap prospek kondisi ekonomi dalam enam bulan mendatang.

Perbedaan arah antara IKE dan IEK menunjukkan bahwa konsumen cenderung lebih berhati-hati dalam menilai kondisi ekonomi yang sedang berjalan, tetapi masih memiliki harapan positif terhadap perkembangan ekonomi ke depan.

Perkembangan ini menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan dalam menilai prospek konsumsi rumah tangga, yang merupakan komponen penting dalam aktivitas ekonomi Indonesia. 

Konsumsi meningkat, porsi tabungan menurun

Data survei BI yang dikutip Bisnis.com juga menunjukkan adanya perubahan alokasi pendapatan rumah tangga pada September 2026.

Rata-rata proporsi pendapatan konsumen yang digunakan untuk konsumsi meningkat dari 74,2% pada Agustus menjadi 74,9% pada September 2026.

Sebaliknya, proporsi pendapatan yang disimpan turun dari 15,8% menjadi 15,4%. Sementara itu, porsi pendapatan untuk pembayaran cicilan atau utang turun dari 10% menjadi 9,7%.

Perubahan tersebut memperlihatkan peningkatan bagian pendapatan yang dialokasikan untuk konsumsi. Meski demikian, data ini tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh kelompok masyarakat mengalami peningkatan daya beli. Perubahan tersebut perlu dibaca bersama perkembangan pendapatan, harga kebutuhan pokok, kesempatan kerja, dan kondisi keuangan rumah tangga.

IKK turun dibandingkan Agustus, tetapi masih optimistis

Pergerakan IKK selama dua bulan terakhir memperlihatkan bahwa keyakinan konsumen sempat meningkat sebelum kembali melemah.

IKK September masih lebih tinggi 1,3 poin dibandingkan Juli 2026. Dengan demikian, penurunan bulanan pada September belum menghapus seluruh kenaikan yang terjadi pada bulan sebelumnya.

Perkembangan IKK perlu dipantau secara berkelanjutan untuk mengetahui apakah pelemahan persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini akan berlanjut atau diimbangi oleh penguatan ekspektasi konsumen.

Dampak terhadap perekonomian

Keyakinan konsumen merupakan salah satu indikator penting untuk membaca arah konsumsi rumah tangga. Ketika konsumen merasa optimistis, mereka cenderung lebih bersedia melakukan pembelian dan merencanakan pengeluaran. 

Sebaliknya, ketika persepsi ekonomi melemah, sebagian rumah tangga dapat memilih menunda pembelian barang bernilai besar atau lebih berhati-hati mengelola keuangan.

Bagi dunia usaha, perkembangan ini menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun proyeksi penjualan, persediaan, dan strategi pemasaran menjelang akhir tahun.

Namun, IKK bukan ukuran langsung pertumbuhan ekonomi atau realisasi belanja masyarakat. Dampak aktualnya perlu dikonfirmasi melalui data konsumsi rumah tangga, penjualan ritel, inflasi, serta perkembangan pendapatan dan ketenagakerjaan.

BI akan terus memantau perkembangan konsumen

Hasil survei September 2026 memperlihatkan dua sinyal yang berbeda: persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini melemah, tetapi ekspektasi konsumen terhadap masa depan meningkat.

Kombinasi tersebut menunjukkan bahwa keyakinan konsumen Indonesia masih berada pada zona optimistis, meskipun belum sepenuhnya mencerminkan penguatan kondisi ekonomi yang sedang dirasakan rumah tangga.

Perkembangan survei konsumen pada bulan-bulan berikutnya akan menjadi indikator penting untuk melihat apakah optimisme tersebut dapat bertahan dan mendukung konsumsi domestik.