Jakarta, PajakOnline – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 tumbuh sebesar 5,61 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Capaian tersebut menjadi pertumbuhan tertinggi dalam lebih dari tiga tahun terakhir dan lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 4,87 persen.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyatakan pertumbuhan ekonomi nasional didorong oleh kuatnya konsumsi rumah tangga, peningkatan belanja pemerintah, serta aktivitas investasi yang tetap terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi global. Nilai Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada triwulan I-2026 tercatat mencapai Rp6.187,2 triliun atas dasar harga berlaku dan Rp3.447,7 triliun atas dasar harga konstan.
Dari sisi lapangan usaha, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 13,14 persen. Peningkatan mobilitas masyarakat selama periode libur nasional, Ramadan, dan Idulfitri menjadi salah satu faktor utama pendorong pertumbuhan ekonomi pada awal tahun ini.
Sementara dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Belanja pemerintah juga meningkat signifikan seiring percepatan realisasi program prioritas dan stimulus ekonomi pemerintah.
Meski tumbuh kuat secara tahunan, BPS mencatat ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sebesar 0,77 persen dibandingkan triwulan IV-2025 secara quarter to quarter (qtq). Namun kondisi tersebut dinilai sebagai pola musiman yang lazim terjadi pada awal tahun setelah tingginya aktivitas ekonomi pada akhir tahun sebelumnya.
Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2026 tetap berada dalam kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen, didukung stabilitas inflasi, konsumsi domestik, serta keberlanjutan program hilirisasi dan investasi nasional.

































