PajakOnline.com—Memasuki tahun 2022, pemulihan ekonomi terjaga. Aktivitas perekonomian pada bulan Januari masih kuat, baik dari sisi produksi maupun konsumsi. Indeks PMI Indonesia tercatat 53,7, meningkat dibanding Desember 2021 (53,5) dan tetap melanjutkan tren ekspansif dalam 5 bulan terakhir.
Hal ini sejalan dengan peningkatan permintaan dalam negeri dan ekspor. IKK Januari 2022 tercatat sebesar 119,6 lebih tinggi dari 118,3 pada Desember 2021. Angka ini berada di atas level optimis, dan turut mendorong aktivitas ekonomi. Namun peningkatan konsumsi diperkirakan tertahan di bulan Februari seiring kenaikan kasus varian Omicron dan penurunan mobilitas masyarakat.
Neraca Pembayaran keseluruhan tahun 2021 mencatatkan surplus USD13,5 miliar, lebih tinggi dari 2020 (USD2,6 miliar), sementara neraca perdagangan konsisten surplus 21 bulan berturut-turut meskipun nominalnya lebih rendah. Ekspor dan impor tumbuh positif namun tidak sekuat bulan sebelumnya.
Ekspor Januari mencapai USD19,2 miliar (Desember 2021: USD22,4 miliar), antara lain karena larangan ekspor batu bara. Sementara Impor Januari USD18,2 miliar (Desember 2021: USD21,4 miliar) karena penurunan volume impor seiring pola bulanan.
Mobilitas masyarakat relatif menurun di masa peningkatan kasus Varian Omicron.
Meski dalam tren menurun, mobilitas rata-rata pada Januari-Februari 2022 masih jauh lebih tinggi dibanding Kuartal I 2021. Aktivitas kegiatan ekonomi masyarakat terus menunjukkan peningkatan, terlihat dari konsumsi listrik yang tumbuh positif 1,0 persen (yoy) pada Januari 2022. Konsumsi listrik industri dan bisnis bahkan tumbuh double digit, menunjukkan sinyal kegiatan ekonomi yang terus menggeliat.
Dinamika kebijakan moneter AS cukup memberikan pengaruh di pasar keuangan. Pasca FOMC Meeting di bulan Januari 2022, dampak sinyal the Fed ke pasar domestik beragam. Volatilitas kondisi pasar keuangan ini terus dicermati. Di sisi lain, meski yield UST meningkat tajam, yield SBN naik perlahan seiring mulai terjadinya arus masuk ke pasar SBN. Hal ini tak lepas dari likuditas domestik yang cukup baik untuk mendukung resiliensi kinerja pasar SBN.
Di bulan Januari 2022, APBN melanjutkan kinerja yang baik. Realisasi belanja negara sampai dengan akhir Januari 2022 mencapai Rp127,2 triliun atau 4,7 persen target APBN. Belanja Negara diupayakan terus berakselerasi untuk memberikan manfaat optimal bagi masyarakat.
Belanja Pemerintah Pusat tercapai sebesar Rp72,2 triliun atau 3,7 persen target APBN, terdiri dari belanja K/L sebesar Rp21,8 triliun dan belanja non-K/L sebesar Rp50,4 triliun.
Menteri Keuangan telah menyampaikan langkah-langkah strategis pelaksanaan anggaran TA 2022 pada pimpinan K/L yang meliputi 5 (lima) hal, yaitu: (1) Perbaikan Perencanaan; (2) Percepatan Pelaksanaan Program/Kegiatan/Proyek; (3) Percepatan Pengadaan Barang dan Jasa; (4) Percepatan Penyaluran Dana Bansos dan Banper yang tepat sasaran; dan (5) Peningkatan Monitoring dan Efektivitas Belanja.
Belanja K/L terutama dimanfaatkan untuk pembayaran gaji dan tunjangan, pendanaan atas kegiatan operasional K/L, program kegiatan K/L untuk pengadaan peralatan/mesin, jalan, jaringan, irigasi, serta pembayaran bantuan iuran jaminan kesehatan nasional.
Selanjutnya, belanja non-KL utamanya digunakan dukung penyaluran subsidi energi dan pembayaran pensiun/ jaminan kesehatan ASN. Kinerja penyerapan bulan-bulan berikutnya diharapkan semakin baik seiring dengan akselerasi penyaluran bansos untuk penanganan kemiskinan ekstrem, dan pelaksanaan berbagai program penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi.
Program PC-PEN tahun 2022 yang akan dimonitor secara intensif diperkirakan mencapai Rp455,62 triliun, terdiri dari penanganan kesehatan sebesar Rp122,54 triliun, perlindungan masyarakat sebesar Rp154,76 triliun, dan penguatan pemulihan ekonomi sebesar Rp178,32 triliun.
“APBN menjadi pelindung dari masyarakat terhadap pressure dari energi, dan dari sisi kesehatan. Ini menggambarkan APBN berperan penting sebagai instrumen pelindung masyarakat, karena guncangan dunia ini masih terjadi dari berbagai segi, seperti kesehatan omicron, komoditas akibat geopolitik, dan recovery yang tidak merata, dan juga kompleksitas dari kenaikan suku bunga global,” kata Menkeu Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita, belum lama ini.
Selanjutnya, penyaluran TKDD sampai dengan akhir Januari 2022 mencapai Rp54,92 triliun atau 7,1 persen target APBN 2022. Belanja TKDD tumbuh positif ditopang dana Transfer ke Daerah, yaitu penyaluran DBH yang lebih tinggi akibat kenaikan alokasi pada APBN 2022 serta realisasi penyaluran DAU yang lebih tinggi akibat peningkatan kepatuhan daerah. Sementara itu, penyaluran Dana Desa masih rendah karena belum semua daerah mengajukan permohonan salur.
Realisasi belanja APBD sebesar 1,97% pagu perlu diakselerasi, mengingat realisasi pendapatan telah mencapai 4,22%. Surplus APBD berdampak pada peningkatan posisi dana Pemda di Bank yang telah mencapai Rp157,97 triliun, lebih tinggi dari Januari 2021 yang mencapai Rp133,5 triliun.
Pada tahun 2022, pembiayaan investasi dianggarkan sebesar Rp182,31 triliun. Anggaran tersebut digunakan untuk klasster infrastruktur sebesar Rp86,41 triliun, klaster pendidikan sebesar Rp20 triliun, klaster kerja sama internasional sebesar Rp1,94 triliun, cadangan pembiayaan investasi sebeesar Rp21,48 triliun, dan pembiayaan pendidikan sebesar Rp49,47 triliun. Pembiayaan Investasi akan dilaksanakan sesuai perencanaan dan diupayakan dicairkan lebih awal untuk memperoleh leverage yang optimal.
































