PajakOnline.com—Pendapatan negara melanjutkan kinerja baik dan tumbuh 36,9% (yoy), ditopang kenaikan harga komoditas dan pemulihan ekonomi yang terjaga. Bahkan, realisasi pendapatan negara pada APBN 2022 kinerjanya telah melampaui target Perpres 98/2022.
Dalam konferensi pers APBN Kita Edisi Desember 2022 Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyebutkan, hingga 14 Desember 2022, Pendapatan Negara tercapai sebesar Rp2.479,9 triliun atau 109,4% dari Pagu.
Kinerja penerimaan pajak masih tumbuh positif, konsisten sejak April 2021 sejalan dengan pemulihan ekonomi. Kinerja penerimaan pajak yang sangat baik hingga 14 Desember 2022 mencapai Rp1.634,4 triliun, atau 110,1% dari Pagu dan tumbuh 41,9% (yoy).
Kinerja penerimaan pajak yang baik tersebut masih dipengaruhi oleh tren peningkatan harga komoditas, pertumbuhan ekonomi yang ekspansif, serta implementasi UU HPP seperti penyesuaian tarif PPN, PPN PMSE, serta Pajak Fintech dan Kripto.
Penerimaan Kepabeanan dan Cukai terealisasi sebesar Rp293,1 triliun atau 98,0% dari Pagu dan tumbuh 20,0% (yoy), didukung kinerja positif seluruh komponen. Kinerja Bea Masuk secara akumulatif masih tumbuh signifikan sebesar 33,1% (yoy) antara lain dipengaruhi oleh peningkatan kinerja impor nasional, tingginya harga komoditas, serta menguatnya kembali aktivitas ekonomi dan industri.
Selanjutnya, penerimaan Bea Keluar juga mencatatkan pertumbuhan dua digit secara akumulatif, yaitu tumbuh 21,7% (yoy) dipengaruhi oleh penurunan harga Referensi CPO serta kenaikan volume dan harga konsentrat tembaga didorong naiknya permintaan dari Jepang. Selanjutnya, realiisasi cukai tumbuh 17,0% (yoy) dipengaruhi efek kenaikan tarif tertimbang di tengah penurunan produksi HT.
Kinerja PNBP sampai dengan 14 Desember 2022 mencapai Rp551,1 triliun (114,4 % dari Pagu). Jika dibandingkan dengan tahun lalu, realisasi PNBP tumbuh 33,2% (yoy) atau meningkat Rp137,4 triliun dari tahun sebelumnya yang terutama didorong dari Pendapatan SDA, KND, dan PNBP Lainnya.
Realisasi PNBP SDA migas tumbuh 56,5% (yoy), terutama didorong kenaikan rata-rata ICP selama sebelas bulan terakhir. Selanjutnya, realisasi PNBP SDA non-migas tumbuh 121,8% (yoy), terutama disebabkan kenaikan harga minerba. Selanjutnya, realisasi PNBP dari KND tumbuh 33,1% (yoy), terutama berasal dari kenaikan dividen BUMN Perbankan yang tumbuh 80,9% (yoy). Realisasi PNBP lainnya tumbuh 37,3% (yoy), didorong kenaikan pendapatan dari Penjualan Hasil Tambang dan pendapatan DMO (Domestic Market Obligation) minyak mentah. Realisasi PNBP dari BLU terkontraksi 30,1% (yoy) akibat turunnya Pendapatan Pengelolaan Dana Perkebunan Kepala Sawit.

































