PajakOnline.com—Reklame yang diselenggarakan dalam rangka kegiatan politik, sosial, dan keagamaan yang tidak disertai dengan iklan komersial kini termasuk dalam daftar pengecualian objek pajak reklame atau bebas pajak.
Ketentuan tersebut tercantum dalam Pasal 60 ayat (3) huruf e UU 1/2022 tentang Hubungan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (HKPD). Sebelumnya, ketentuan pengecualian tersebut tidak terdapat dalam aturan terdahulu, yakni UU 28/2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD).
"Yang dikecualikan dari objek pajak reklame adalah … reklame yang diselenggarakan dalam rangka kegiatan politik, sosial, dan keagamaan yang tidak disertai dengan iklan komersial," demikian kutipan Pasal 60 ayat (3) huruf e UU HKPD.
Sebenarnya pengecualian reklame untuk kegiatan politik, sosial, dan keagamaan yang tidak bersifat komersial dari objek pajak reklame bukan sepenuhnya hal baru.
Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) dalam publikasinya bertajuk Pedoman
Umum PDRD menerangkan ketentuan tersebut. Melalui publikasi itu, DJPK menyatakan reklame ucapan selamat dari orang pribadi, badan, atau partai politik tidak termasuk dalam objek pajak reklame.
Selain itu, reklame yang bertujuan sosial, keagamaan, pendidikan, kesehatan, dan adat istiadat juga tidak termasuk objek pajak reklame. Reklame-reklame tersebut tidak termasuk dalam objek pajak reklame karena tidak bersifat komersial.
Berkaitan reklame untuk kegiatan politik, DJPK melalui laman resminya menyebutkan penyelenggaraan reklame dalam rangka pelaksanaan kegiatan politik dikecualikan dari objek pajak reklame. Oleh karenanya, reklame untuk kegiatan politik tidak dapat dikenakan pajak reklame.
Guna mengatur penyelenggaraan reklame tersebut, masih merujuk penjelasan DJPK, kepala daerah dapat menerbitkan peraturan kepala daerah (perkada).
