PajakOnline.com—Perlambatan aktivitas ekonomi dan dunia usaha di tengah wabah Corona atau Covid-19 telah menyebabkan banyak kerugian dan kesusahan bagi sebagian besar kalangan, baik Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), Pengusaha, bahkan seluruh warga masyarakat yang menjadi wajib pajak.
Pengamat perpajakan Abdul Koni menilai relaksasi dalam bentuk kelonggaran dan insentif pajak yang diberikan pemerintah kepada para wajib pajak patut untuk diapresiasi. Namun, relaksasi pajak ini belum menyentuh ke semua sektor.
“Banyak kalangan yang sudah minta perluasan insentif pajak, karena kondisinya memang sangat sulit saat ini karena pandemi. Semua sektor terdampak Corona,” kata Koni. Ditambah lagi penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah wilayah dan daerah di Indonesia.
Baca Juga: Peraturan Menteri Keuangan Nomor 23/PMK 03/2020
Koni menyakini penerima insentif pajak bisa bertambah. "Sekarang saja sudah ditambah 18 sektor dari 11 sektor sebelumnya yang diatur dalam PMK Nomor 23 Tahun 2020 tentang Insentif Pajak untuk Wajib Pajak Terdampak Wabah virus Corona. Pemerintah telah menyampaikan di media massa bahwa PMK tersebut akan direvisi untuk perluasan insentif pajak. Kami menyakini, pemerintah akan merespons setiap perkembangan terkini dalam penanganan Covid-19 ini," kata Koni, Managing Partners PajakOnline Consulting Group.
Sebelumnya, dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 23 Tahun 2020, pemerintah memberikan empat jenis insentif pajak kepada dunia usaha yang dinilai terdampak wabah Corona. Salah satunya, pembebasan Pajak Penghasilan (PPh) 21 karyawan yang memiliki pendapatan maksimal Rp 200 juta per tahun. Pemerintah akan menanggungnya 100 persen selama enam bulan, yakni April ini sampai September 2020.
Selain PPh21, juga akan mendapat pembebasan PPh Pasal 22 impor dan pengurangan angsuran PPh Pasal 25 sebesar 30 persen dari angsuran yang seharusnya terutang. Jangka waktunya masih sama, yakni enam bulan.
Pada tahap awal tersebut, pemerintah memberikan insentif pajak hanya kepada sektor manufaktur. Namun, seiring dinamika dan tekanan penyebaran pandemi Corona, pemerintah kemudian menyampaikan kebijakan akan memperluas sektor penerima insentif pajak, dari 11 ke 18 dengan total sebanyak sebanyak 1.083 KBLI.
