Highlight oleh Eka L. Prasetya, Pemimpin Redaksi PajakOnline
Jakarta, PajakOnline – Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 kini menjadi perhatian besar investor domestik maupun asing di tengah tekanan global, pelemahan rupiah, dan meningkatnya kebutuhan belanja negara.
Pemerintah menegaskan bahwa kondisi fiskal Indonesia tetap berada dalam jalur aman dengan komitmen menjaga defisit di bawah batas 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Hingga awal 2026, realisasi APBN sempat mencatat defisit akibat percepatan belanja pemerintah, termasuk program prioritas nasional dan perlindungan sosial. Meski demikian, Kementerian Keuangan menyatakan fundamental fiskal masih kuat dan penerimaan negara terus dioptimalkan, terutama dari sektor perpajakan.
Investor juga menyoroti meningkatnya kebutuhan pembiayaan negara serta kebijakan pemerintah dalam memperkuat kontrol ekspor sumber daya alam melalui BUMN strategis. Kebijakan tersebut dinilai dapat memengaruhi arus modal, pasar obligasi, hingga pergerakan nilai tukar rupiah.
Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto menegaskan pemerintah tetap disiplin menjaga kesehatan fiskal dan memastikan APBN menjadi instrumen utama untuk menjaga pertumbuhan ekonomi nasional.
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada di kisaran 5,8 hingga 6,5 persen dalam beberapa tahun mendatang.
Pelaku pasar kini menanti langkah lanjutan pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah, mengendalikan defisit, serta mempertahankan kepercayaan investor di tengah ketidakpastian ekonomi global.

































