PajakOnline.com—Barang yang memenuhi sifat atau karakteristik tertentu yang telah diatur dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 s.t.d.d Undang-Undang No. 39 Tahun 2007 (UU Cukai) disebut sebagai Barang Kena Cukai (BKC). Salah satunya ialah Cukai Hasil Tembakau (CHT).
CHT menjadi salah satu komponen peneriman negara sehingga memiliki peranan yang penting dan strategis. CHT tersebut mengarah ke berbagai hasil tembakau termasuk salah satunya adalah Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL). Apakah Anda sudah mengetahui apa itu HPTL?
HPTL merupakan hasil tembakau yang dibuat dari daun tembakau dengan bentuk lain sesuai dengan perkembangan teknologi dan selera konsumen. HPTL tersebut meliputi tembakau yang dipanaskan seperti rokok elektrik (vape), tembakau molasses, tembakau hirup, hingga tembakau kunyah.
Dalam pembuatannya, HPTL tidak disusul dengan bahan pengganti atau bahan pembantu. Terkait ketentuas atas HPTL ini salah satunya telah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan No. 198/PMK.010/2020 tentang tarif cukai hasil tembakau serta definisi dari HPTL sendiri.
Kemudian, HPTL sendiri dikenakan tarif cukai maksimalnya sebesar 57% berdasarkan UU No. 39 Tahun 2007 dengan sistem ad-valorem yang sebelumnya kebijakan cukai untuk HPTL ini diberlakukan dengan menggunakan sistem tarif spesisifik tanpa adanya kategorisasi jenis-jenis produk. (Atania Salsabila)
































