PajakOnline.com—Kampanye Pilkada Serentak 2020 sudah berlangsung lebih satu bulan. Dalam catatan Bawaslu, sebanyak 39.303 kegiatan kampanye digelar tatap muka dan hanya 247 kampanye via daring.
Temuan senada juga dikemukakan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Hanya 4 persen kegiatan kampanye yang menggunakan media daring dan media sosial. Sebanyak 96 persen paslon masih menggunakan kampanye pertemuan langsung secara tatap muka.
[caption id="attachment_26431" align="alignright" width="233"]
M. Jamiluddin Ritonga
Pengamat Komunikasi Politik dari Universitas Esa Unggul[/caption]
Rendahnya kampanye melalui media daring dan medsos memang mengejutkan. Sebab, di era pandemi Covid-19, paslon diharapkan lebih banyak menggunakan media darling dan medsos dalam kampanye. Harapannya agar penularan Covid-19 dapat diminimalkan atau minimal tidak menjadi cluster baru.
Harapan menggunakan media daring dan medsos dalam kampanye Pilkada serentak 2020 memang beralasan. Sebab, jumlah pengguna internet pada akhir Januari 2020 mencapai 175,4 juta orang dari total penduduk Indonesia 272,1 juta jiwa. Ini artinya, hampir 64 persen penduduk Indonesia sudah terkoneksi dengan jaringan internet.
Tingginya pengguna internet di Tanah Air, diasumsikan akan efektif berkampanye melalui media darling dan medsos. Karena itu, para paslon awalnya diperkirakan akan lebih banyak menggunakan kampanye melalui media tersebut daripada melalui tatap muka.
Semua perkiraan dan harapan itu meleset. Banyak pihak menilai, hal itu terjadi karena ketidaksiapan tim kampanye dan/atau calon dengan perangkat kampanye.
Penilaian ini tampaknya berlebihan mengingat masing-masing paslon pada dasarnya mampu merekrut tim kampanye yang menguasai seluk beluk media darling dan medsos. Karena itu, kurang beralasan bila rendahnya kampanye via media daring dan medsos hanya karena tim kampanye dan paslon gagap teknologi.
Ada kemungkinan tim kampanye dan paslon memang meragukan efektivitas kampanye melalui media daring dan medsos. Kenapa?
Pertama, menurut Bawaslu memang masih ada kendala akses internet di 541 kecamatan di daerah yang menggelar pilkada 2020. Ini artinya, di sejumlah kecamatan tersebut memang sulit dilaksanakan kampanye melalui media daring dan medsos secara optimal. Keterbatasan akses internet akan menghasilkan banyak gangguan bila dipaksakan kampanye via media daring dan medsos.
