Insight oleh Abdul Koni, Ketua Tax Payer Community (Masyarakat Pembayar Pajak Indonesia)
Jakarta, PajakOnline – Pemerintah optimistis perekonomian Indonesia mampu tumbuh kuat meski dunia masih dibayangi ketidakpastian global, gejolak geopolitik, dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional berada di kisaran 5,4 persen pada 2026 dan terus meningkat hingga 5,8–6,5 persen dalam beberapa tahun mendatang.
Optimisme tersebut didukung oleh kuatnya konsumsi domestik, percepatan investasi, hilirisasi industri, serta peningkatan aktivitas sektor swasta. Pemerintah juga terus mendorong belanja negara agar mampu menjaga daya beli masyarakat dan menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Pada triwulan I 2026, ekonomi Indonesia tercatat tumbuh 5,61 persen secara tahunan di tengah perlambatan ekonomi global. Kinerja tersebut dinilai menjadi sinyal positif bahwa ekonomi domestik masih cukup solid menghadapi tekanan eksternal.
Sebelumnya Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah akan memperkuat berbagai strategi untuk menjaga momentum pertumbuhan, termasuk menjaga stabilitas fiskal, mempercepat investasi, serta memperkuat sektor industri dan ekspor nasional.
Selain itu, pemerintah juga menargetkan stabilitas rupiah tetap terjaga melalui koordinasi fiskal dan moneter. Dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal 2027, pemerintah memproyeksikan nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS.
Meski sejumlah lembaga internasional dan investor global masih mencermati arah kebijakan ekonomi Indonesia, pemerintah menegaskan reformasi ekonomi, penguatan investasi, dan pembangunan industri nasional akan terus dilanjutkan demi mencapai visi Indonesia Emas 2045.
Daya Beli Masyarakat Jadi Kunci Utama
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih berada di atas 5 persen pada 2026 menunjukkan ketahanan ekonomi domestik yang cukup kuat di tengah tekanan global, pelemahan rupiah, dan ketidakpastian pasar internasional.
Berdasarkan data terbaru, ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 tumbuh 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy), ditopang terutama oleh konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan investasi domestik.
Kekuatan utama ekonomi Indonesia saat ini masih berasal dari pasar domestik. Konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari 50 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sehingga ketika daya beli masyarakat tetap bergerak, roda ekonomi nasional tetap berputar.
Namun demikian, masyarakat mulai merasakan tekanan terhadap daya beli akibat kenaikan harga kebutuhan pokok, pelemahan upah riil, serta meningkatnya kehati-hatian rumah tangga dalam berbelanja. Sejumlah riset menunjukkan konsumsi masyarakat memang masih tumbuh, tetapi pola belanja mulai berubah menjadi lebih selektif dan defensif.
Berikut ini sejumlah faktor yang membuat ekonomi Indonesia masih mampu bertahan:
1. Konsumsi Domestik Tetap Menjadi Penopang
Momentum Ramadhan dan Idul Fitri 2026 mendorong perputaran uang nasional dalam jumlah besar. Aktivitas mudik, belanja masyarakat, sektor makanan-minuman, transportasi, dan pariwisata ikut menopang pertumbuhan ekonomi awal tahun.
2. Belanja Pemerintah Masih Agresif
Belanja negara meningkat cukup besar pada awal 2026, termasuk program bantuan sosial, pangan, dan program makan bergizi. Dari sisi ekonomi, kebijakan fiskal ekspansif membantu menjaga konsumsi masyarakat bawah dan mengurangi tekanan perlambatan ekonomi.
3. Investasi dan Hilirisasi Industri Tetap Bergerak
Pemerintah terus mendorong hilirisasi mineral, penguatan industri pengolahan, serta investasi strategis nasional. Industri pengolahan masih menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar terhadap PDB nasional.
4. Stabilitas Inflasi Masih Relatif Terkendali
Meskipun rupiah mengalami tekanan, inflasi nasional masih berada dalam rentang sasaran pemerintah dan Bank Indonesia. Stabilitas inflasi membantu menjaga konsumsi masyarakat agar tidak turun terlalu dalam.
Upaya Memperbaiki Daya Beli Masyarakat
Pemerintah perlu fokus memperkuat kualitas pertumbuhan ekonomi agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat luas, terutama kelas menengah dan pekerja informal. Beberapa langkah yang dinilai penting antara lain:
- menjaga harga kebutuhan pokok tetap stabil,
- memperluas lapangan kerja produktif,
- meningkatkan upah riil pekerja,
- memperkuat UMKM dan industri padat karya,
- menjaga subsidi dan bantuan sosial lebih tepat sasaran,
- serta menjaga stabilitas rupiah agar harga barang impor tidak semakin mahal.
Selain itu, reformasi perpajakan juga dinilai harus diarahkan untuk memperkuat ekonomi nasional tanpa membebani masyarakat bawah.
Penerimaan pajak yang sehat harus kembali ke masyarakat dalam bentuk pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan penciptaan lapangan kerja.
Di tengah tantangan global, ekonomi Indonesia dinilai masih memiliki modal kuat karena ditopang pasar domestik yang besar. Namun, keberlanjutan pertumbuhan ke depan akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah menjaga daya beli masyarakat dan kepercayaan investor secara bersamaan.

































