TRENDING
Danantara Bidik Investasi Rp542 Triliun, Lebih dari 40 Proyek Industri Strategis DisiapkanHarga Minyak Dunia Melonjak, Brent Tembus USD115 per Barel, Biaya Energi Indonesia Terancam NaikRupiah Tertekan, Dolar AS Tembus Rp18.184: Dunia Usaha Waspadai Lonjakan Biaya ImporReformasi Pasar Modal, Jaga Kepercayaan InvestorPemerintah Siapkan Badan Khusus Migas, Perizinan Investasi Bakal Satu PintuBaru 25% Wajib Pajak Multinasional Terapkan Pajak Minimum Global, DJP Dorong Kepatuhan Jelang TenggatPemerintah Siapkan Penyesuaian Insentif KEK di Tengah Pajak Minimum Global 15%DJP Tegaskan Penghapusan Sanksi Pajak Tidak Otomatis, Wajib Pajak Harus Mengajukan PermohonanDemo Indonesia Sadar di Bundaran HI, Mahasiswa Desak Pemerintah Benahi Lingkungan, Anggaran, Pendidikan hingga DemokrasiCoretax Tambah Hak Akses Penandatangan SPT PPh 21/26, Kerahasiaan Gaji Karyawan Lebih TerjagaSoal Kasus Mekanik Ditagih Pajak McLaren Rp137 Juta, Ini Kata DJPPemerintah Relaksasi Sanksi Pajak atas Piutang Rp40,2 TriliunKEK Masih Butuh Tax Holiday di Tengah Pajak Minimum Global 15%, Pemerintah Siapkan Skema Insentif BaruEkspor Ilegal Emas Rp1,02 Triliun Terbongkar, Bea Cukai dan Polri Buru Pemilik JaringanDJP Siapkan Pertukaran Data Kripto Lintas Negara Tahun Depan, 23 Juta Akun Jadi TargetPemerintah Tanggung 100% PPN Tiket Pesawat Nataru, Ini Jadwal dan SyaratnyaDanantara Bidik Investasi Rp542 Triliun, Lebih dari 40 Proyek Industri Strategis DisiapkanHarga Minyak Dunia Melonjak, Brent Tembus USD115 per Barel, Biaya Energi Indonesia Terancam NaikRupiah Tertekan, Dolar AS Tembus Rp18.184: Dunia Usaha Waspadai Lonjakan Biaya ImporReformasi Pasar Modal, Jaga Kepercayaan InvestorPemerintah Siapkan Badan Khusus Migas, Perizinan Investasi Bakal Satu PintuBaru 25% Wajib Pajak Multinasional Terapkan Pajak Minimum Global, DJP Dorong Kepatuhan Jelang TenggatPemerintah Siapkan Penyesuaian Insentif KEK di Tengah Pajak Minimum Global 15%DJP Tegaskan Penghapusan Sanksi Pajak Tidak Otomatis, Wajib Pajak Harus Mengajukan PermohonanDemo Indonesia Sadar di Bundaran HI, Mahasiswa Desak Pemerintah Benahi Lingkungan, Anggaran, Pendidikan hingga DemokrasiCoretax Tambah Hak Akses Penandatangan SPT PPh 21/26, Kerahasiaan Gaji Karyawan Lebih TerjagaSoal Kasus Mekanik Ditagih Pajak McLaren Rp137 Juta, Ini Kata DJPPemerintah Relaksasi Sanksi Pajak atas Piutang Rp40,2 TriliunKEK Masih Butuh Tax Holiday di Tengah Pajak Minimum Global 15%, Pemerintah Siapkan Skema Insentif BaruEkspor Ilegal Emas Rp1,02 Triliun Terbongkar, Bea Cukai dan Polri Buru Pemilik JaringanDJP Siapkan Pertukaran Data Kripto Lintas Negara Tahun Depan, 23 Juta Akun Jadi TargetPemerintah Tanggung 100% PPN Tiket Pesawat Nataru, Ini Jadwal dan Syaratnya
PajakOnline
Beranda
Berita Pajaknews
Hubungi KamiKebijakan Privasi
← Semua berita

Headlines

Danantara Bidik Investasi Rp542 Triliun, Lebih dari 40 Proyek Industri Strategis Disiapkan

·

Danantara Bidik Investasi Rp542 Triliun, Lebih dari 40 Proyek Industri Strategis Disiapkan

Jakarta, PajakOnline — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menargetkan investasi industri strategis senilai USD20 miliar hingga USD30 miliar atau sekitar Rp361,4 triliun hingga Rp542,1 triliun dalam dua sampai tiga tahun ke depan. Target ini diarahkan untuk mempercepat transformasi industri Indonesia, mulai dari pengolahan mineral hingga pengembangan semikonduktor, energi, dan infrastruktur digital.

Chief Technology Officer (CTO) Danantara Indonesia, Sigit Puji Santosa, menyampaikan target tersebut dalam forum Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin (26/10/2026).

Menurut Sigit, Danantara telah menyiapkan lebih dari 40 proyek industri strategis dalam kerangka pengembangan lima tahun. Sejumlah proyek masih menjalani studi kelayakan atau feasibility study (FS), sementara proyek yang memenuhi persyaratan dapat berlanjut ke tahap perancangan teknik awal atau front-end engineering design (FEED).

“Kalau kita bisa mencapai 20–30 miliar dolar AS dalam waktu dua hingga tiga tahun ke depan, itu akan sangat bagus. Tapi kami ingin lebih dari itu,” ujar Sigit dalam keterangannya dikutip Kamis (29/10/2026).

Target tersebut menunjukkan ambisi Danantara untuk tidak hanya mengelola investasi, tetapi juga mendorong terbentuknya industri bernilai tambah tinggi yang dapat memperkuat struktur ekonomi nasional.

Enam Klaster Industri Menjadi Fokus

Danantara menyiapkan portofolio proyek yang mencakup enam kelompok industri, yaitu energi; pangan dan teknologi kesehatan; infrastruktur, mobilitas, dan telekomunikasi; pertahanan, maritim, dan dirgantara; material maju; serta industri lain seperti elektronika, permesinan, teknologi finansial, dan semikonduktor.

Dari berbagai sektor tersebut, mineral, material maju, dan semikonduktor menjadi prioritas karena dinilai memiliki potensi untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi dan memperkuat kemampuan teknologi nasional.

Dalam industri mineral, misalnya, pemerintah ingin mendorong pengembangan kegiatan ekonomi melampaui penambangan dan ekspor bahan mentah. Pengolahan diharapkan berkembang hingga menghasilkan komponen, subsistem, dan produk akhir yang dapat digunakan oleh industri manufaktur.

Strategi tersebut berpotensi memperluas rantai pasok domestik sekaligus membuka peluang bagi perusahaan lokal untuk masuk ke sektor industri yang membutuhkan teknologi dan keterampilan lebih tinggi.

Energi dan Infrastruktur Digital Jadi Andalan

Pada sektor energi, portofolio Danantara mencakup dukungan terhadap program tenaga surya berkapasitas 100 gigawatt (GW), pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir, pengolahan batu bara menjadi dimetil eter (DME), pembangunan kilang minyak, serta penguatan rantai pasok baterai kendaraan listrik.

Di sektor digital, rencana pengembangan mencakup kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), komputasi awan berdaulat (sovereign cloud), pusat data berkapasitas daya 1 GW, dan teknologi blockchain.

Rencana tersebut masih perlu diterjemahkan menjadi proyek yang memiliki pendanaan, teknologi, jadwal pembangunan, dan model bisnis yang jelas. Kapasitas yang diumumkan dalam rencana pengembangan tidak dapat langsung dianggap sebagai kapasitas yang telah dibangun atau beroperasi.

Pengembangan semikonduktor juga menjadi perhatian karena Indonesia membutuhkan kemampuan yang lebih kuat dalam penguasaan desain, komponen, dan teknologi untuk mendukung industri elektronik, pusat data, serta kendaraan listrik.

Ketergantungan Impor Bahan Baku Farmasi Jadi Peluang

Pada sektor pangan dan kesehatan, Danantara menyiapkan pengembangan industri bahan baku farmasi, vaksin, obat biologis, biosimilar, serta peralatan medis.

Sigit menyebut hampir 94% kebutuhan bahan baku obat Indonesia masih bergantung pada impor. Ketergantungan tersebut menunjukkan adanya peluang bagi investasi industri farmasi domestik, terutama untuk mengembangkan kapasitas produksi dan mengurangi kerentanan terhadap gangguan pasokan internasional.

Meski demikian, keberhasilan pengembangan industri farmasi tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fasilitas produksi. Ketersediaan teknologi, standar mutu, bahan baku, sumber daya manusia, dan kepastian permintaan juga akan menentukan daya saing produk dalam negeri.

Danantara menyatakan akan mengutamakan penguatan perusahaan yang sudah ada, termasuk badan usaha milik negara (BUMN). Jika kapasitas industri domestik belum mencukupi, kerja sama dengan perusahaan lain dan mitra strategis akan dibuka.

Realisasi Investasi Nasional Capai Rp1.539,2 Triliun

Target Danantara muncul ketika realisasi investasi nasional masih menunjukkan perkembangan positif.

Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi Indonesia mencapai Rp1.539,2 triliun sepanjang Januari–September 2026. Angka tersebut setara dengan 75,4% dari target investasi tahun 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun.

Pada periode yang sama, realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp480 triliun atau tumbuh 11,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Investasi hilirisasi tersebut menyumbang sekitar 31,2% dari total realisasi investasi nasional.

Realisasi investasi secara keseluruhan juga dilaporkan menyerap sekitar 2,19 juta tenaga kerja.

Data tersebut memperlihatkan bahwa hilirisasi telah menjadi bagian penting dalam struktur investasi Indonesia. Namun, capaian investasi nasional tersebut tidak boleh disamakan dengan investasi Danantara karena merupakan angka agregat dari berbagai sumber dan pelaku investasi.

Besarnya target investasi Danantara perlu diikuti pelaksanaan proyek yang terukur. Studi kelayakan, kepastian pendanaan, kesiapan infrastruktur, perizinan, teknologi, dan pemilihan mitra akan menentukan apakah proyek dapat masuk tahap konstruksi dan mulai beroperasi.

Selain itu, investasi industri strategis harus memperhitungkan tingkat pengembalian komersial dan risiko. 

Chief Investment Officer Danantara Indonesia, Pandu Patria Sjahrir menekankan pentingnya menyeimbangkan imbal hasil komersial dengan dampak strategis, disertai pengelolaan risiko dan disiplin keuangan. 

Pendekatan tersebut penting karena investasi industri berskala besar membutuhkan modal jangka panjang dan berpotensi menghadapi perubahan harga komoditas, teknologi, permintaan, serta kondisi pasar global.

Pemerintah dan Danantara juga perlu memastikan bahwa investasi memberikan manfaat nyata bagi perekonomian domestik melalui penciptaan lapangan kerja, penguatan pemasok lokal, peningkatan keterampilan tenaga kerja, dan pengembangan teknologi.

Jika terealisasi dengan baik, proyek-proyek tersebut berpotensi memperluas basis industri nasional dan mengurangi ketergantungan pada impor sejumlah produk strategis. Namun, hasil akhirnya akan ditentukan oleh kualitas proyek dan kemampuan mengubah rencana investasi menjadi kegiatan produksi yang berkelanjutan.

Berita lainnya di Headlines