PajakOnline.com—Bea Cukai memiliki fungsi community protector dari barang-barang yang membahayakan kehidupan masyarakat dan industri. Perlindungan tersebut dilakukan melalui pengawasan oleh satuan tugas patroli laut Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC).
Sesuai Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.179/PMK.04/2019 tentang Patroli Laut DJBC (PMK 179/2019, Satuan Tugas (Satgas) Patroli Laut dapat melakukan hot pursuit apabila diperlukan dalam rangka pelaksanaan patroli laut.
Hot pursuit merupakan hak tiap negara pantai untuk melaksanakan tindakan pengejaran seketika terhadap kapal asing yang diduga melanggar peraturan perundang-undangan negara pantai. Hot pursuit dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan ketentuan hukum laut internasional.
Selain itu, adapun hak untuk melakukan pengejaran ini disebut hak pengejaran seketika (right of hot pursuit). Right of hot pursuit secara menyeluruh tertera dalam Pasal 111 United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982. Implementasi dari hot pursuit juga telah disahkan Pemerintah Indonesia dalam bentuk UU No. 17/1985 tentang Pengesahan UNCLOS.
Dalam pasal 111 UNCLOS 1982, hot pursuit terhadap suatu kapal asing dapat dilakukan apabila pihak yang berwenang dari negara pantai mempunyai alasan cukup untuk mengira kapal tersebut telah melanggar peraturan negara tersebut. Pengejaran tersebut dimulai ketika kapal asing ada di perairan pedalaman, perairan kepulauan, laut teritorial, jalur tambahan atau zona ekonomi eksklusif (ZEE).
