Denpasar, PajakOnline — Direktorat Jenderal Pajak (DJP) terus mendorong kesadaran pajak sejak usia sekolah. Melalui program Pajak Bertutur 2026, Kantor Wilayah DJP Bali mengajak ratusan peserta didik memahami bagaimana pajak berperan dalam membiayai pembangunan dan menggerakkan perekonomian nasional.
Pajak Bertutur 2026 mengusung tema “Pajak Kita: Energi Generasi Juara”. Di Bali, kegiatan tersebut diikuti 525 peserta didik dari jenjang sekolah dasar hingga menengah yang berasal dari 10 satuan pendidikan di sejumlah kabupaten/kota.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program edukasi perpajakan yang dilaksanakan DJP secara serentak di seluruh Indonesia pada 3 September 2026. Secara nasional, Pajak Bertutur 2026 menjangkau 26.114 siswa dan mahasiswa, melibatkan 60 SD/sederajat, 198 SMP/sederajat, 247 SMA/sederajat, serta 24 perguruan tinggi.
Kenalkan Pajak Melalui Dunia Pendidikan
Kepala Kanwil DJP Bali Darmawan mengatakan, pemilihan SMP Nasional Denpasar sebagai salah satu lokasi kegiatan tidak terlepas dari perluasan Program Inklusi Kesadaran Pajak yang mulai diterapkan pada jenjang SMP pada 2026.
SMP Nasional Denpasar merupakan salah satu dari enam SMP di Bali yang menjadi sekolah piloting program tersebut.
“Pajak Bertutur menjadi salah satu sarana bagi Direktorat Jenderal Pajak untuk mengenalkan peran dan manfaat pajak kepada generasi muda melalui cara yang lebih seru dan menyenangkan,” ujar Darmawan.
Menurutnya, pemahaman mengenai keuangan negara penting ditanamkan sejak dini karena pembangunan nasional membutuhkan dukungan fiskal yang kuat.
“Untuk mewujudkan cita-cita besar bangsa seperti menghadirkan pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur yang lebih baik, Indonesia membutuhkan energi fiskal yang kuat. Salah satu sumber utama energi pembangunan tersebut berasal dari kepatuhan pajak masyarakat,” katanya.
APBN Diibaratkan sebagai “Dompet Negara”
Materi Pajak Bertutur di Bali tidak hanya membahas pajak secara teoritis. Peserta didik juga diajak memahami mekanisme pengelolaan keuangan negara melalui pendekatan sederhana.
Penyuluh Pajak Kanwil DJP Bali Ni Putu Ariasih menggunakan analogi “dompet fiskal” untuk menjelaskan konsep APBN kepada para siswa.
“Pemerintah juga memiliki dompet yang digunakan untuk mengatur penerimaan dan pengeluaran negara. Dompet tersebut disebut APBN, di mana uang yang masuk disebut Pendapatan Negara, sedangkan uang yang keluar disebut Belanja Negara,” jelas Ariasih.
Pendekatan tersebut diharapkan membuat siswa lebih mudah memahami hubungan antara pajak yang dibayarkan masyarakat dengan berbagai program pemerintah.
Pendidikan Dapat Alokasi Rp757,8 Triliun
Dalam kegiatan tersebut, Penyuluh Pajak Mohamad Arif Prasaja juga menjelaskan alokasi APBN 2026, termasuk anggaran pendidikan.
Menurutnya, pemerintah mengalokasikan Rp757,8 triliun untuk sektor pendidikan pada APBN 2026, setara dengan 20 persen dari APBN sesuai amanat konstitusi.
Anggaran tersebut antara lain mendukung Program Indonesia Pintar bagi sekitar 21 juta siswa, Kartu Indonesia Pintar Kuliah bagi 1,2 juta mahasiswa, tunjangan profesi guru, Bantuan Operasional Sekolah, Beasiswa LPDP, riset, hingga Program Makan Bergizi Gratis yang ditujukan bagi sekitar 82,9 juta penerima.
Penjelasan tersebut memperlihatkan kepada peserta bahwa pengelolaan pajak tidak berhenti pada proses pemungutan. Penerimaan negara kemudian dialokasikan kembali melalui berbagai program yang menyentuh kehidupan masyarakat.
DJP: Kesadaran Pajak Adalah Investasi Jangka Panjang
Secara nasional, Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat DJP Inge Diana Rismawanti menegaskan bahwa membangun kesadaran pajak sejak dini merupakan investasi jangka panjang.
“Kesadaran pajak tidak dibangun ketika seseorang pertama kali menjadi wajib pajak. Nilai itu perlu dikenalkan sejak dini agar anak-anak memahami bahwa membangun Indonesia membutuhkan kontribusi dan gotong royong kita bersama,” ujar Inge.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pajak Bimo Wijayanto menekankan bahwa pajak harus dipahami sebagai energi bersama yang membuka kesempatan bagi masyarakat melalui pembiayaan pendidikan, energi, infrastruktur, dan berbagai layanan publik.
“Pajak adalah energi yang dikumpulkan bersama untuk menggerakkan roda kebangsaan Indonesia dan membuka lebih banyak kesempatan,” kata Bimo.
Menyiapkan Generasi Emas 2045
Pajak Bertutur 2026 pada akhirnya tidak hanya diarahkan untuk mengenalkan aturan perpajakan kepada siswa. Program ini juga menjadi bagian dari upaya membangun tax morale dan kesadaran mengenai pentingnya kontribusi warga negara.
DJP berharap generasi muda memahami bahwa berbagai fasilitas yang mereka nikmati saat ini merupakan bagian dari pembangunan yang membutuhkan dukungan penerimaan negara.
Dengan tema “Pajak Kita: Energi Generasi Juara” dan tagline “Sehari Mengenal, Selamanya Bangga”, edukasi perpajakan diarahkan agar kesadaran membayar pajak tumbuh jauh sebelum seseorang menjadi wajib pajak.
Bagi DJP, generasi juara bukan hanya generasi yang mampu meraih prestasi, tetapi juga generasi yang memahami tanggung jawab, integritas, dan kontribusinya bagi masa depan Indonesia.


































