PajakOnline | Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah tidak akan menerapkan pajak atau cukai baru hingga pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai minimal 6 persen.
Pernyataan ini muncul menyusul wacana pengenaan cukai untuk produk seperti popok sekali pakai dan tisu basah, yang sempat diusulkan dalam Rencana Strategis Kementerian Keuangan 2025–2029 melalui PMK No. 70/2025.
Meski item-item tersebut tercantum dalam peraturan, Purbaya menegaskan bahwa pemerintah tidak akan segera memberlakukan pungutan tambahan.“Sebelum ekonominya stabil, saya tidak akan menambah pajak,” ujarnya.
Menurut Purbaya, pengenaan pajak prematur dapat menekan pendapatan disposabel masyarakat, apalagi setelah kebutuhan dasar dan kewajiban terpenuhi. Oleh karena itu, dia memilih memprioritaskan stimulus ekonomi ketimbang menambah beban pajak.
Sebagai alternatif penguatan penerimaan negara, Purbaya mendukung upaya reformasi fiskal dan teknologi, seperti lebih mengoptimalkan sistem administrasi perpajakan (Coretax) dan memperkuat efisiensi pengumpulan pajak.
Dari sisi proyeksi ekonomi, Purbaya juga menyatakan optimisme bahwa pertumbuhan dapat mencapai 6 persen pada 2026, dengan landasan kebijakan fiskal ekspansif serta koordinasi yang lebih erat antara pemerintah dan sektor swasta.
Sementara itu, Ketua Tax Payer Community (Masyarakat Pembayar Pajak Indonesia/MPPI) Abdul Koni mendukung kebijakan relaksasi pajak pemerintah. Hal tersebut sudah sesuai dengan rekomendasi Tax Payer Community, termasuk menunda kenaikan PPN sampai kondisi perekonomian membaik.
“Kami sudah mengingatkan pemerintah jauh-jauh hari sebelumnya untuk memberikan insentif pajak, stimulus fiskal, untuk meningkatkan daya beli masyarakat, termasuk menunda kenaikan PPN pada masa Menkeu sebelumnya. Kami sudah kritisi hal ini,” kata Koni.
Menurut Koni, dengan tidak menambah beban pajak akan membuat para pelaku usaha lebih fokus dan bersemangat untuk mengembangkan dan memajukan usahanya. “Selain itu akan meningkatkan daya beli dan perbaikan kegiatan ekonomi yang masih terasa slow down,” pungkas Koni.
































