
Oleh: Anthony Budiawan — Managing Director PEPS (Political Economy and Policy Studies)
Jakarta, PajakOnline — Konflik Amerika Serikat dan Israel melawan Iran sudah berlangsung lebih dari tujuh bulan. Selat Hormuz tertutup sejak Maret 2026. Konflik meluas melibatkan proxy. Houthi sudah menguasai seluruh pantai Laut Merah Yaman dan Selat Bab al-Mandab, dan mengumumkan blokade terhadap kapal Saudi. Fasilitas minyak Arab Saudi berulang kali diserang. Pada 11 September, pipa Timur–Barat, jalur utama ekspor minyak Saudi untuk menghindari Hormuz, diserang dan sempat ditutup. Kemarin, 3 Oktober, Houthi menyerang fasilitas minyak Saudi di selatan Riyadh dengan rudal balistik dan drone.
Konflik yang terus memburuk membuat harga minyak mentah kembali melambung. Harga Brent ditutup 102,31 dolar AS per barel pada 1 Oktober 2026, naik sekitar 43 persen dari 71,32 dolar AS pada 27 Februari 2026, sehari sebelum perang. Kondisi ini memicu kenaikan inflasi global. IMF memperkirakan inflasi global 2026 mencapai 4,7 persen, lebih tinggi dari proyeksi April 2026.
IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan global 2026 menjadi hanya 3 persen, lebih rendah dari rata-rata 3,5 persen pada 2024 dan 2025. Bank Dunia lebih pesimis, dengan proyeksi pertumbuhan sekitar 2,5 persen dan bisa anjlok sampai 1,3 persen.
Indonesia tidak terlepas dari perkiraan pesimisme ekonomi dunia. Pertumbuhan ekonomi triwulan I dan triwulan II 2026 nampaknya masih kuat, dengan pertumbuhan masing-masing 5,61 persen dan 5,29 persen. Tetapi, hal ini perlu dibedah secara terpisah. Untuk sementara, anggap saja data ini benar. Karena sulit dibantah, hanya dapat dirasakan khususnya oleh masyarakat menengah bawah.
Di lain sisi, data menunjukkan ekonomi Indonesia semakin memprihatinkan. Defisit transaksi berjalan melebar. Defisit pada triwulan pertama 2026 masih 3,6 miliar dolar AS atau 1,0 persen terhadap PDB, kemudian meningkat menjadi 12,5 miliar dolar AS atau 3,3 persen terhadap PDB pada triwulan II 2026. Dalam tiga bulan, defisit transaksi berjalan bertambah hampir 9 miliar dolar AS. Sepanjang semester I/2026, defisit transaksi berjalan mencapai sekitar 16,1 miliar dolar AS, atau 2,2 persen terhadap PDB.
Neraca perdagangan barang dan jasa juga dalam kondisi memprihatinkan, mencatat defisit 4,57 miliar dolar AS pada triwulan II 2026. Defisit ini terjadi lagi untuk pertama kalinya setelah pandemi COVID-19. Semua ini mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang rapuh.
