PajakOnline.com—Dampak buruk pandemi Covid-19 membuat utang Pemerintah Indonesia makin banyak. Ini terjadi lantaran penerimaan negara yang anjlok sedangkan belanja negara melonjak.
"Akibatnya utang kita naik, karena penerimaan kita turun, kemudian belanja naik. Demikian akan berlanjut di 2021," kata Tim Asistensi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Raden Pardede, dalam acara diskusi Menjaga Momentum Pemulihan Ekonomi Nasional secara virtual di Jakarta, belum lama ini atau Kamis (17/12/2020).
Meningkatnya posisi utang Indonesia tentu menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah. Utamanya adalah bagaimana agar ekonomi Indonesia dapat tumbuh lebih cepat. Dengan begitu pemerintah bisa kembali membayar utang yang digunakan untuk Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).
"Mungkin 2-3 tahun atau 4 tahun akan datang (bisa bayar utang). Pemerintah harus tarik pajak lebih banyak lagi supaya bisa menutup akibat utang yang naik akibat dari program ini," kata dia.
Dia menambahkan, tidak ada yang salah terhadap utang apalagi dalam program PEN. Mengingat stimulus seperti itu juga dilakukan hampir seluruh dunia.
"Jadi kalau bapak atau ibu lihat nanti bagaimana utang di seluruh negara naik, ini dalam rangka stimulus fiskal untuk membantu kelompok rentan daripada pandemi Covid-19," katanya.
Sebelumnya dalam pemberitaan media ini, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menjelaskan mengenai kondisi utang yang terjadi di dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2020.
