Jakarta, PajakOnline – Pemerintah melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memproyeksikan perekonomian Indonesia sepanjang 2026 tumbuh pada kisaran 5,4–5,5 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Proyeksi tersebut mencerminkan optimisme pemerintah terhadap ketahanan ekonomi domestik di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.
Proyeksi ini disampaikan Menteri Keuangan Suahasil Nazara dalam konferensi pers KSSK di Jakarta, Selasa (3/11/2026). Angka ini mengalami penyesuaian dibandingkan proyeksi sebelumnya pada Agustus 2026 yang berada di kisaran 5,6–6,0 persen.
Penyesuaian proyeksi tersebut menunjukkan pemerintah tetap memperhitungkan berbagai risiko eksternal, termasuk dinamika geopolitik, kondisi pasar keuangan global, serta tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Pemerintah menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat dengan dukungan konsumsi rumah tangga, investasi, belanja pemerintah, dan ekspor.
Konsumsi Rumah Tangga dan APBN Jadi Penopang
Menkeu Suahasil menjelaskan, permintaan domestik masih menjadi salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Konsumsi rumah tangga diperkirakan tetap terjaga melalui berbagai stimulus fiskal pemerintah. APBN juga terus difungsikan sebagai peredam guncangan ekonomi (shock absorber) melalui subsidi, kompensasi, perlindungan sosial, stabilisasi harga pangan, dan program penciptaan lapangan kerja.
Menurut Suahasil, investasi juga diperkirakan tumbuh kuat seiring berlanjutnya proyek hilirisasi industri dan pembangunan infrastruktur yang menjadi prioritas pemerintah.
Selain itu, percepatan belanja negara dan penyaluran bantuan sosial diharapkan memberikan tambahan dorongan terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
Dari sisi eksternal, ekspor nonmigas masih menunjukkan kinerja positif, didukung permintaan dan kenaikan harga sejumlah komoditas unggulan Indonesia.
Optimisme pemerintah didukung sejumlah indikator ekonomi yang menunjukkan aktivitas dunia usaha dan konsumsi masyarakat masih bergerak positif.
Data yang dipaparkan KSSK mencatat penjualan mobil pada September 2026 tumbuh 28,1 persen secara tahunan. Sementara itu, penjualan sepeda motor meningkat 15,4 persen.
Indikator lainnya adalah Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang meningkat dari kisaran 52 pada September menjadi 54 pada Oktober 2026.
