Jakarta, PajakOnline — Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan memasuki perdagangan hari ini Jumat, 2 Oktober 2026.
Pada perdagangan Kamis, 1 Oktober, rupiah dilaporkan melemah hingga sekitar Rp17.937 per dolar AS.
Untuk perdagangan Jumat, sejumlah analis memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp17.900-Rp18.050 per dolar AS. Angka tersebut merupakan proyeksi pasar, bukan kurs penutupan yang telah terjadi. Tekanan terhadap mata uang emerging market juga datang dari faktor global.
Reuters melaporkan posisi bearish investor terhadap rupiah meningkat, sementara harga minyak dan kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat memberikan tekanan terhadap mata uang negara-negara pengimpor energi.
Di dalam negeri, inflasi September 2026 tercatat 3,28% secara tahunan, sedangkan inflasi bulanan sebesar 0,30%.
Pergerakan rupiah akan menjadi perhatian dunia usaha karena perubahan kurs berpengaruh terhadap biaya impor, pembayaran utang dalam valuta asing, harga bahan baku dan struktur biaya perusahaan.