Jakarta, PajakOnline — Perekonomian Indonesia tetap tumbuh di atas 5 persen pada triwulan II-2026 di tengah ketidakpastian ekonomi global. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada triwulan II-2026.
Namun, pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan triwulan I-2026 yang mencapai 5,61 persen yoy. Secara kuartalan, ekonomi Indonesia tumbuh 3,73 persen dibandingkan triwulan I-2026.
Dengan capaian tersebut, ekonomi Indonesia pada semester I-2026 tumbuh 5,45 persen dibandingkan semester I-2025.
BPS mencatat Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atas dasar harga berlaku pada triwulan II-2026 mencapai Rp6.552,1 triliun.
Sementara itu, PDB atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp3.576,2 triliun.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud mengatakan pertumbuhan ekonomi pada triwulan II tetap ditopang oleh aktivitas ekonomi domestik.
Dari sisi produksi, pengadaan listrik dan gas menjadi lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi, yakni 10,81 persen yoy.
Sedangkan dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 15,97 persen yoy.
Konsumsi rumah tangga masih menjadi salah satu fondasi utama perekonomian nasional.
Bank Indonesia mencatat konsumsi rumah tangga pada triwulan II-2026 tumbuh 5,06 persen yoy. Pertumbuhan tersebut antara lain didukung momentum libur sekolah serta berbagai Hari Besar Keagamaan Nasional.
Konsumsi pemerintah bahkan tumbuh 15,97 persen yoy, sedangkan konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) tumbuh 6,93 persen.
Kondisi ini menunjukkan bahwa permintaan domestik masih memiliki peran penting dalam menopang pertumbuhan ketika perekonomian global menghadapi berbagai tekanan.
Selain konsumsi, investasi menjadi mesin pertumbuhan lainnya.
Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi tumbuh 6,87 persen yoy pada triwulan II-2026. Bank Indonesia menyebut pertumbuhan tersebut terutama didorong peningkatan pada subkomponen kendaraan serta investasi pemerintah dan swasta sejalan dengan meningkatnya realisasi penanaman modal.
Perkembangan investasi menjadi penting karena tidak hanya mendorong pertumbuhan PDB, tetapi juga meningkatkan kapasitas produksi dan berpotensi menciptakan lapangan kerja baru.
Dari sektor eksternal, ekspor barang dan jasa pada triwulan II-2026 tumbuh 4,13 persen yoy.
Bank Indonesia menyebut pertumbuhan ekspor tersebut ditopang permintaan dari sejumlah mitra dagang utama Indonesia.
Kinerja ekspor menjadi semakin penting di tengah ketidakpastian perdagangan global, perubahan kebijakan perdagangan sejumlah negara, serta dinamika harga komoditas.
Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan tetap menjadi salah satu kontributor utama perekonomian Indonesia.
BPS mencatat sektor industri pengolahan tumbuh 4,52 persen yoy pada triwulan II-2026 dan memberikan kontribusi sekitar 18,50 persen terhadap PDB.
Sektor perdagangan, konstruksi serta informasi dan komunikasi juga mencatat pertumbuhan positif dan menjadi bagian penting dalam menopang aktivitas ekonomi nasional.
Pertumbuhan industri pengolahan menunjukkan bahwa aktivitas produksi domestik masih relatif kuat, terutama untuk memenuhi permintaan dalam negeri.
Sektor jasa juga menunjukkan kinerja positif. Lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 10,60 persen yoy pada triwulan II-2026.
Pertumbuhan tersebut antara lain berkaitan dengan peningkatan okupansi hotel dan aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan program pemerintah.
Secara semester I-2026, lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum bahkan mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 11,83 persen.
Jawa Masih Mendominasi Ekonomi Nasional
Secara spasial, Pulau Jawa masih menjadi pusat aktivitas ekonomi Indonesia.
BPS mencatat wilayah Jawa memberikan kontribusi 56,47 persen terhadap struktur ekonomi nasional pada triwulan II-2026 dan tumbuh 5,65 persen yoy.
Sementara itu, wilayah Bali dan Nusa Tenggara mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi secara regional, yakni 6,10 persen. Pertumbuhan tersebut antara lain didukung pemulihan sektor pariwisata.
Pemerintah menilai capaian pertumbuhan ekonomi semester I menunjukkan ketahanan ekonomi domestik masih cukup kuat.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan ekonomi Indonesia tetap tumbuh di atas 5 persen meskipun tekanan global masih tinggi.
“Di tengah tekanan global yang tidak ringan, ekonomi Indonesia tetap tumbuh kuat dan konsisten di atas 5%," kata Menko Airlangga.
Pemerintah menilai capaian tersebut menunjukkan fondasi ekonomi domestik masih solid dan kebijakan yang ditempuh pemerintah memberikan dukungan terhadap aktivitas ekonomi.
Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 tetap berada dalam kisaran 4,9–5,7 persen yoy.
BI menilai permintaan domestik masih menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan. Untuk menjaga momentum tersebut, BI terus mengombinasikan kebijakan moneter, makroprudensial dan sistem pembayaran dengan kebijakan pemerintah.
Meski pertumbuhan ekonomi masih berada di atas 5 persen, perlambatan dari 5,61 persen pada triwulan I menjadi 5,29 persen pada triwulan II perlu menjadi perhatian.
Tantangan ke depan berasal dari kondisi ekonomi global, ketidakpastian perdagangan internasional, perkembangan harga komoditas, nilai tukar, serta daya beli masyarakat.
Oleh karena itu, perlu menjaga konsumsi rumah tangga, mempercepat investasi, memperkuat industri pengolahan dan hilirisasi, serta meningkatkan produktivitas menjadi faktor penting untuk mempertahankan pertumbuhan pada paruh kedua 2026.
Dengan pertumbuhan 5,29 persen pada triwulan II dan 5,45 persen sepanjang semester I, ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan tersebut semakin berkualitas, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan produktivitas, dan dirasakan lebih luas oleh masyarakat.