Yogyakarta, PajakOnline — Suara kritis mahasiswa kembali mengemuka. Serikat Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (SEMA UGM), Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), dan Kabinet Keluarga Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (KM ITB) menyampaikan pernyataan sikap bersama bertajuk “Nestapa Indonesia” di Yogyakarta, Sabtu (26/9/2026).
Pertemuan tersebut menjadi wadah konsolidasi tiga organisasi mahasiswa untuk menyampaikan pandangan mereka mengenai sejumlah persoalan nasional, mulai dari demokrasi, kebebasan berpendapat, supremasi hukum hingga tata kelola keuangan negara. Informasi mengenai deklarasi tersebut juga dikonfirmasi sejumlah media yang melaporkan kegiatan tiga organisasi mahasiswa tersebut.
Ketua Umum SEMA UGM, Mesa, menyatakan bahwa mahasiswa melihat adanya persoalan serius dalam ruang demokrasi dan kebebasan menyampaikan kritik.
Menurut Mesa, kritik masyarakat, mahasiswa maupun kalangan ahli seharusnya menjadi bagian dari mekanisme koreksi dalam demokrasi. Namun, menurut pandangan yang disampaikan dalam deklarasi tersebut, kritik justru kerap diperlakukan sebagai ancaman.
“Demokrasi terus mengalami kemunduran, kritik yang seharusnya menjadi vitamin demokrasi justru diperlakukan sebagai ancaman.”
Mahasiswa juga mengaitkan persoalan demokrasi dengan kebebasan akademik dan ruang sipil. Mereka menyerukan agar ruang diskusi serta kebebasan menyampaikan pendapat tetap dijaga.
Soroti beban masyarakat dan penggunaan anggaran negara
Selain isu demokrasi, SEMA UGM, BEM UI, dan KM ITB turut menyoroti persoalan sosial-ekonomi.
Mesa menyebut beban kehidupan masyarakat, termasuk pajak, biaya transportasi dan biaya kebutuhan hidup, sebagai bagian dari keresahan yang mereka bawa dalam pernyataan bersama.
Di sisi lain, mereka mempertanyakan transparansi serta pertanggungjawaban penggunaan anggaran negara. Kritik tersebut merupakan pandangan organisasi mahasiswa, bukan kesimpulan independen bahwa seluruh program pemerintah tidak transparan.
Dalam pernyataan yang dikutip media, Mesa mempersoalkan penggunaan uang negara untuk program yang menurut mereka minim transparansi dan pertanggungjawaban.
