PajakOnline.com—Aktivitas ekonomi bergerak bervariasi cenderung membaik di bulan November di mana Neraca Perdagangan untuk bulan November 2020 mengalami surplus USD2,61 miliar sehingga akumulasi surplus Januari hingga November 2020 mencapai USD19,66 miliar, didorong tingginya surplus nonmigas terutama ekspor hasil kelapa sawit dan logam dasar mulia, serta rendahnya defisit migas terutama impor BBM dampak penurunan konsumsi BBM selama pandemi.
Kenaikan ekspor didorong tingginya surplus neraca nonmigas didukung pertumbuhan ekspor nonmigas seperti ekspor besi dan baja dasar ke Tiongkok dan bijih tembaga, serta peningkatan ekspor CPO ke India.
Kinerja impor bulan November 2020 mengalami titik balik di bulan November, tumbuh positif 18,38% (mtm), didorong peningkatan impor pada kelompok Bahan Baku dan Penolong, Barang Konsumsi, dan Barang Modal; antara lain peralatan komunikasi, besi baja dasar, dan bahan baku plastik.
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada bulan November menunjukkan perbaikan, ditopang oleh membaiknya ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi ke depan. Selanjutnya, konsumsi listrik secara total pada November tumbuh -2,2% (yoy), membaik dibandingkan pertumbuhan Oktober -2,3% (yoy).
Begitu pula inflasi kembali positif 0,28% (mtm) di November membaik dibandingkan 0,07% (mtm) di Oktober, sejalan dengan permintaan konsumsi yang meningkat. Tingkat imbal hasil (yield) SBN, baik SBN Rupiah maupun SBN Valas terus mengalami penurunan yang signifikan sejalan dengan sentimen positif di pasar keuangan di tengah kepemilikan asing yang masih rendah di kisaran 25%.
Sementara itu, Credit Default Swap Indonesia pun sudah di bawah 100 dengan tren menurun dan hampir kembali ke posisi awal tahun menandakan profil default risk (country risk) yang rendah.
Bersambung: Belanja Negara Jadi Lokomotif Utama Pertumbuhan Kuartal IV 2020


































